Eksistensi (re-blog)

Apa yang paling kita rindukan dari masa lalu? Mungkin eksistensi. Kita mencari-cari diri kita sendiri di dasar ingatan, di rongga-rongga waktu yang sudah kita lewatkan. Di sana, kita melihat diri kita sendiri dalam gambar yang paling jelas dan menyenangkan, atau gambar paling buruk saat diri kita paling membutuhkan perhatian. Barangkali, kita ingat rambut kita yang diterpa angin sore, sementara tangan sahabat menggantung di pundak kanak-kanak kita yang masih kekar. Keringat. Bau matahari. Lumpur yang kering di sandal jepit yang kita kenakan. Oh, kenangan. Kita menemukan diri kita sendiri dalam pujian-pujian yang menyenangkan, atau cacian-cacian yang menyesakkan. Tapi di atas semua itu, kita menemukan diri kita ada, hidup dalam waktu.

Apa yang paling merisaukan kita pada masa kini? Mungkin eksistensi. Hari-hari kita dipenuhi keresahan dan kecemasan. Tentang uang. Tentang cinta. Tentang pendidikan. Tentang pekerjaan. Tentang keluarga. Tentang apa saja. Kita khawatir kehilangan diri kita sendiri di tengah-tengah semua itu. Barangkali, kita memeriksa telepon genggam setiap lima menit sekali, memeriksa kotak masuk pesan SMS atau e-mail, memeriksa nomor kontak, memeriksa Facebook atau Twitter, berusaha menemukan apa kata orang lain tentang diri kita, apa yang dipikirkan orang lain tentang diri mereka masing-masing—yang barangkali berhubungan dengan diri kita. Mudah-mudahan ada yang menenangkan, kita masih ada dalam pertemanan-pertemanan, kita masih hidup dalam lingkaran-lingkaran pergaulan, hidup dalam waktu.

Apa yang paling ingin kita ketahui dari masa depan? Mungkin eksistensi. Akan jadi apa kita nanti? Akan jadi apa anak kita kelak? Akan seperti apa keluarga kita, setelah kita tiada? Barangkali, kita akan membangun rumah, bekerja keras untuk kesuksesan kita, mencintai pasangan kita sepenuh hati, mendidik anak-anak kita sebaik-baiknya, agar kita tak dilupakan dan tak terlupakan. Lalu semua kenangan, hasrat, semangat, dan rasa ingin tahu kita berakhir di sebuah liang, di sebuah pusara yang di sana dituliskan nama kita: Lengkap dengan tanggal lahir dan tanggal kematian kita. Mudah-mudahan orang akan mengenang hal-hal baik tentang kita, mendoakan kita, yang pernah hidup dalam waktu.

Siapa yang ingin hidup abadi?

(tulisan ini saya re-blog dari website mas Fahd Pahdepie at fahdpahdepie.com)

Kampus, 28 November 2014

Advertisements

2 thoughts on “Eksistensi (re-blog)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s