Aku Harus Belajar!

DSCN9647Tumpukan buku-buku di rak rotan itu mengganggu konsentrasiku. Batin mengajak aku terpana untuk segera menjamahnya. Tentu saja aku bisa leluasa membacanya, tanpa peduli putaran detik yang meninggalkan angka-angka pada jam dinding itu. Tentu saja, aku lebih mudah tidur dengan bau lembaran kertas yang dibendel rapi pada buku bacaan. Atau, bisa jadi ranjang ini basah oleh air mata semacam sedang terjadi drama yang teramat menyedihkan hingga mengharu biru. Dan lebih dari itu ranjang ini bisa hampir runtuh menahan tubuh sedang membaca cerita yang rupanya penuh tawa. Aku bisa menjadi apa saja untuk menikmati sebuah cerita yang tersaji dalam sebuah buku. Itu sebab aku mencintainya. Adakah yang lebih “gila” dariku?. Tetapi kelak kalian juga akan mengerti dan memahami semua ke”gila”anku jika kalian mau membaca buku. Aku tidak sedang menggurui hanya saja ingin berbagi tentang nikmatnya hidup di dalam rangkaian cerita dari imajinasi para penulisnya. Tapi bukan itu satu-satunya duniaku.

Aku belajar dari banyak orang yang kutemui, tentang pengalamannya. Melakukan sebuah refleksi dari cara berpikirnya, tumbuh dengan menyerap semangat dan saripati hidupnya. Aku senang mendengar orang lain bercerita, terkagum-kagum dengan cerita hebat yang ada padanya, atau sekedar menguatkan jikalau ia sedang risau. Tak lupa melemparkan senyum sebagai tanda terimakasih sudah berkenan berbagi cerita. Aku menikmatinya. Menyempatkan diri menonton film, video, atau petikan wawancara dari orang-orang yang kukagumi memberikan semangat dari energi positif yang terpancar. Jauh sekali aku ingin menggali kedalaman mereka, menjelajahi setiap inci sel otaknya, dan memaksa diri untuk iri pada setiap kebaikan yang mereka lakukan. Menimang, menimbang, dan mengukur seberapa jauh jarak antara aku dengan mereka –orang-orang yang kukagumi berada. Dari itu aku belajar berhitung mengenai apa saja yang bisa aku lakukan saat ini dan apa saja yang bisa aku capai di masa depan. Maka dengan kesadaran semacam itu, barangkali, akan lepas pula semua belenggu yang ada pada diri. Barangkali akan hancur lebur pula semua alasan yang membentur langkah kaki. Dalam hidup, akan selalu tersedia ruang untuk belajar bagi mereka yang ingin menjadi pembelajar bagi dirinya. Bukan untuk sibuk menjadi orang lain melainkan sibuk menjadi diri sendiri yang terus belajar dari banyak hal yang ditemui.

Aku harus lebih banyak belajar sebagai jalan melupakan setiap keluhan, ada hal-hal lain yang lebih penting dipikirkan, dan lebih membutuhkan peran kita untuk diperhatikan. Di luar kerumunan orang-orang yang sibuk melakukan perbincangan entah apa itu, mungkin aku bisa lebih banyak belajar menemukan pelajaran-pelajaran yang lebih berharga, hikmah-hikmah yang tampak bercahaya, atau luka yang pernah mampir dalam diri sembuh segera.

Demikianlah, putaran waktu: pagi-siang-sore-malam-kemarin-besok-lusa dan kapanpun hari-hari berikutnya menghampiri kita, akan ditentukan oleh seberapa banyak kita belajar menemukan apa yang sebenarnya kita butuhkan untuk menjadi apapun yang terhebat. Yang kita impikan…

Terimakasih pada buku-buku yang setia, teman yang penuh tawa, sahabat yang istimewa, dan orang-orang hebat yang secara langsung maupun tak langsung mengisi kekosongan jiwa yang haus akan ilmu. Aku tumbuh bersama kalian yang hebat.

Malang, 26 November 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s