Hujan dan Bias-bias Rindu

Mendung mulai datang membuat langit menjadi gelap. Mungkin dalam hitungan dua atau tiga menit lagi hujan akan segera turun, gemuruh petir tak mau kalah menggelegar. Jalanan di kampus kian sepi di bendung udara dingin yang menggigil. Pukul 13.33, aku berjalan meyusuri lorong kampus menuju lobby segera sebelum hujan angin turun. Lenggang. Ah hujan memang sulit di tebak kedatangannya, tapi aku menyukainya. Aku duduk di kursi panjang berwarna putih, tepat berseberangan dengan pintu kaca untuk masuk gedung yang jika hujan turun aku leluasa memandangi rintiknya yang jatuh. Kunyalakan mp3 dari handphone dengan earphone sambil meletakkan tas di sampingku, juga dua buah buku di atasnya. Aku tahu, hujan tak akan cepat reda jadi apa salahnya aku menghabiskan waktu menikmati hujan dari dalam gedung ini toh perkuliahan juga sudah selesai.

Sebuah message masuk ke handphone-ku mengingatkan ada tugas dan surat observasi yang harus segera di urus. Kuketik cepat sebuah reply untuk temanku, “Ya, tunggu saja.” kudiamkan saja handphone-ku saat kemudian berbunyi lagi. Aku akan segera mengurusnya setelah hujan ini reda, kataku dalam hati. Menjelang akhir semester harus disibukkan dengan banyak tugas yang menunggu dijamah pemiliknya, sebuah kewajiban sebagai seorang yang disebutnya mahasiswa. Apa aku tampak sedang pusing memikirkan tugas-tugas itu? ha ha ha. Sepertinya tidak.

Kutekuk kepala ke belakang, menyandar kuat ke leher kursi, dengan mata memejam, kuhirup nafas panjang dari sejuknya udara yang dibawa hujan. Maafkan aku, maafkan. Ujarku pelan. Aku melirik handphone yang ada di genggamanku, membuka notes yang aku tulis dengan judul “to do list. Kuliah. Segera.”. Aku diam membaca satu per satu deretan tugas yang harus segera di selesaikan, membuatku berpikir dan memilih mengerti betapa ada tanggung jawab yang dijalani tak seharusnya membuat bibir ini tersenyum kecut dan memahat raut murung di wajahku.

Akan segera kuselesaikan semuanya dan kujanjikan pada diriku untuk berlibur setelahnya. Kadang aku tampak seperti orang yang butuh melakukan perjalanan panjang menikmati liburan, kata temanku. Aku kembali tenggelam menikmati alunan musik dan hujan yang rintiknya menyanyikan sebuah irama yang menyelamatkan perasaan. Bukankah seharusnya aku tak perlu berbasa-basi dan bernegosiasi dengan diriku sendiri? jika itu kulakukan sama saja artinya aku sedang menyerah menerima tanggung jawab dan pilihan yang kuambil. Bukankah aku sendiri yang sering mengatakan ucapan itu pada diriku sendiri? Bukankah kataku itu keinginan dalam diriku untuk tidak terlena dengan apa yang ada dihadapanku? Bukankah kataku itu yang selalu menguatkan aku untuk tetap bertahan dan melangkah melewati apa yang ada? Aku lupa? Atau aku hanya mengucapkan sebuah verbalisme kosong? Atau mungkin aku sedang melakukan pembenaran? Oh mengelak? Atau aku sedang tidak berdaya mengambil kendali pada diriku? Atau itu sebuah bentuk menyerah? Atau atau atau yang lainnya.

“ah terbukti kan, terlalu banyak berkata-kata akan membuatku lupa pada apa yang sudah kulakukan.”

Kueratkan jaket parasit yang kukenakan, aku tersenyum kecut memandang diriku sendiri yang akhir-akhir ini kehilangan gairah, arah, dan tujuan. “Baiklah” kataku sembari mengambil sebuah buku notes berwarna hitam di dalam tasku, kubuka kotak pensil untuk mengambil sebuah bolpoin warna hitam pemberian dari salah satu karyawan di kampus ini karena sungguh malang nian ia melihatku sudah dua kali kehilangan bolpoin yang aih rupanya baru saja dibeli beberapa hari. Ha ha ha. Lalu kutuliskan sisa-sisa harapan yang semoga akan menyala tepat di tengah halaman notes ini. Cahayanya tak lagi benderang sempurna. Hanya membiaskan barisan kata yang menciptakan bayang-bayang serupa tarian yang akan hidup bila kusentuh dengan kekuatan hati untuk tetap kuat.

Perlahan, dengan suara isak yang ditekan, kunyanyikan lagu Tetaplah Berdiri yang terputar di playlist handphone-ku. Seorang diri, untuk diriku sendiri, biarkan cahaya terang menyinari ruang ini, selalu tersenyum dalam langkah. Perlahan dengan mata yang berkaca tak kuasa menahan air yang membasahi kelopak, kubaca lagi sebuah catatan yang dikirimkan seorang sahabatku yang ia baca pada salah satu artikel di internet tengah malam tadi:

“Tidak ada lagi yang melarang melakukan ini itu, orang tua tidak lagi menyuruh mengerjakan PR sekeras saat kita masih sekolah, kita akan melawan diri sendiri, melawan rasa malas, belajar disiplin, karena kita sadar perubahan ada pada sebesar apa kemauan merubah pribadi kita.”

Membuang pandangan ke luar, seperti cahaya yang menembus kaca, bayangan yang berada di air, ada sisa-sisa gerimis yang segera hengkang siap untuk digagahi terang. Ada kalimat terbata-bata yang terucap, “Aku merindukanmu, bu. Ibu harus bangga melihatku.”

“aku suka gayaku, yang diam tetapi dalam.” Kataku sambil tertawa mengusap air mata.

Kampus, menunggu hujan reda

17 November 2014; 14.53

 

Advertisements

8 thoughts on “Hujan dan Bias-bias Rindu

  1. aah faraah tulisanmu super sekali 🙂 ngerti gak sih nd perantauan aku malah terhambat ga iso nulis? dan iki aku mencoba bangkit. kunjungi balik ya, kasih aku pencerahan ya kakak 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s