Hujan Sore Tadi

Aku bahagia. Seperti kembali menemukan hidup. Setelah lama berjalan tak menikmati guyuran hujan. Aku terduduk penuh senyum di balik jendela mengingat aku yang dulu selalu menikmati hujan, mengingat bahagia saat menantikan gemuruh hujan hendak mengguyur bumi. Akhirnya detik itu tiba lagi. Musim hujan, sore ini hujan datang membawa serta kenangan baik bersamanya. Hujan, yang dulu pernah menjadi teman baikku menawarkan percikan lembut yang menyegarkan wajah.

Sering kutengadahkan wajahku agar hujan bisa membasuhnya. Dan kali ini hujan kembali menyapa keringnya rasa seolah berkata tak ada yang harus dirisaukan. Entah mengapa aku masih suka bermain-main dengan hujan berharap ia tak pernah reda. Supaya aku tak perlu menahan lagi setiap perih yang datang saat hujan reda. Agar aku tak perlu susah-susah menarik lagi kenangan indah bersama hujan setiap sore. Hujan yang datang membuatku menyadari bahwa kamu hanya satu-satunya yang kunanti kedatangannya.

Aku merindumu. Aku merindu kehangatan bersamamu. Aku rindu berjalan melukis cahaya indah menujumu. Aku merindu menjadi seperti anak yang menikmati hujan dengan keceriaan yang lepas. Aku merindu menikmatinya bersamamu dengan kebebasan. Aku harap hujan tak segera reda. Barangkali benar, semakin deras hujan, semakin segar udara yang tertinggal. Bukankah begitu?

Sayang sekali, aku tak cukup mengerti bahwa hujan kali ini senyap karena yang tersisa hanya bayangmu. Atau barangkali aku yang tak kuasa menolak kenyataan itu. Aku diam saja. Entahlah, biarkan aku melepasmu agar kau tenang disana dan biarkan aku tetap menikmati raut lembut wajahmu tanpa mengusik takdirmu di sela rintik yang dibawa hujan. Biarkan. Di ruang ini semakin deras hujan yang turun aku semakin asik bercengkrama dengan rintiknya, menyisakan senyum pahit. Aku hanya perlu berjalan untuk berteduh pada payung yang dikembangkanNya. Entah bagaimana caranya..

Hujan Sore Tadi

Sore tadi hujan datang lagi

Ia menertawakanmu

Sore tadi hujan datang lagi

Ketika rintik-rintiknya bersenandung tentangmu

Sore tadi hujan datang lagi

Membawa bau yang masih terasa bahkan saat kamu pergi

Sore tadi hujan datang lagi

Ada yang menantikan redanya,

Menunggu pelangi

Sore tadi hujan datang lagi

Ada yang melarang redanya

Sampai pulih lukanya diluruhkan hujan

Hujan sore tadi

Bukan milikmu lagi rupanya

Di sela rintiknya

Ada yang duduk mematung

Di kursi kayu, di balik jendela, di ruang yang kau cipta

Kenangan namanya

Di ruang itu kau tak boleh lagi bersembunyi

Itu bukan rumahmu lagi

Hanya doa yang bisa melerai lukamu

Yang kau bisikkan pada angin

Apa rintik hujan masih setia menyampaikan perih-perih kenangan yang tetiba membuatmu rindu?

Kampus, 14 Oktober 2014; 14.53

Advertisements

2 thoughts on “Hujan Sore Tadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s