Cangkir Kopi dan Puisi

10511255_10201912300808292_9082946182053624084_n
cangkir kopi untuk puisi

Ini kopi ketiga yang kuminum setelah beberapa hari menari-nari dengan intonasi pada bait-bait puisi. Kau mungkin tak mengerti betapa nikmatnya menulis puisi ditemani secangkir kopi yang membuatku bertahan dengan lembaran kertas putih berjam-jam lamanya. Aku tak sedang mencari seseorang dengan bait-bait puisi ini, hanya saja rasanya aku seperti kembali merengkuh kehidupan ketika menuliskan bait-bait puisi ini. Bukan soal cinta, aku tak pandai menuliskan hal itu. Hanya sebuah ungkapan ekspresi yang meletup-letup, mendadak mendorong tangan untuk segera menuangkan secangkir inspirasi pada selembar kertas putih.

***

Aku perlu beberapa waktu untuk merangkai bait-baitnya…

“kenapa lama diam memandangi kertas kosong di depanmu itu?” tanya hati yang rindu inspirasi

“titik. aku hanya bisa menulis ini. aku gak tau akan menulis apa?” aku beralasan

“jangan kebanyakan melamun. coba tulis satu kata.” tanyanya lagi

“hening.” jawabku mengambang

satu bait…

dua bait…

tiga…

kemudian lima…

lalu sepuluh…

enam belas…

beberapa bait lagi selesai…

tiga jam berlalu untuk menyelesaikan satu rangkaian puisi itu

“kau tak sedang bernegosiasi dengan egomu kan tadi?” tanya hati

“sepertinya lebih ingin untuk mengalahkannya, mengalahkan diri sendiri, menjauhkan dari sebuah rasa ketidakmampuan dan penundaan.” jawaban yang meyakinkan diri.

Aku kira malam ini akan gagal lagi menulis karena seringnya menunda dan memilih tidur. Malam ini sepertinya putaran jam di dinding tidak menunjukkan bahwa malam telah larut, masih jam 00.25. Aku kembali menyeruput secangkir kopi terakhir yang menemaniku menulis malam ini sambil menyalin bait-bait puisi itu pada laptop. Beginilah mungkin rasanya menjadi seorang yang lepas, bebas menuliskan apa saja yang terlintas di kepala. Entah pada kesadaran level berapa aku menulis bait puisi ini sampai rasanya tubuh menjadi lebih ringan seperti telah melepaskan beban. Jika bisa kusebut hidup adalah hal yang “gila” maka menulis adalah satu-satunya cara agar aku tetap waras. Iya waras! aku serius, melepaskan semua beban tanpa peduli logika menolak atau menerima, hanya saja terus menulis dan menulis. Melatih diri melihat pada sudut pandang yang berbeda. Kadang tak peduli bagaimana maknanya tapi dan tapi tanpa disadari menghadirkan sebuah cerita dari sudut pandang baru. Aku hanya ingin merapikan rasa di hatiku. Dengan itu aku bisa saja tertawa sendiri, menangis sendu, terharu, kadang juga merenung terhanyut ke dalam cerita.

Menulis adalah merasakan. Merasakan kekuatan untuk jujur berkata pada diri sendiri. Menulis adalah kenikmatan untuk membaca diri. Dan menulis adalah ungkapan rasa terselubung yang bisa membuat siapa saja menerka-nerka. ha ha. Bisa saja itu terjadi. Aku sering melamunkan bagaimana huruf-huruf ini dirangkai, diurai maknanya, dan bagaimana ujung ceritanya. Lalu bertanya pada siapa tulisan ini ditujukan? Entahlah, butuh waktu lama untuk mengurai jawaban atas pertanyaan itu. Aku masih menulis meski seringkali takut dan mempertanyakan banyak hal.

“jangan jadikan itu alasan untuk tidak menulis!” kata hati

Bersama bait-bait puisi ini aku mengimajikan kata yang mungkin saja hanya nurani yang mengerti. Melepaskan makna dalam metafora kata-katanya, dan aku mencintainya. Aku hanya akan menulis, membahasakan setiap apa yang bisa dilihat, didengar, dan dirasakan. Karena bersamaan dengan aku menuliskan bait puisi ditemani cangkir kopi ini ada cerita yang tak terbantahkan kelak menjadi saksi untuk tetap ada dan dikenang hingga kini. Cerita yang meski belum tertata tapi pernah menghiasi setiap kata yang kutuliskan.

Tuliskan saja, karena siapa tahu, di ujung sana, atau di belahan sana, ada seseorang yang bangkit dari sedihnya karena membaca tulisan kita. Tuliskan saja, walaupun bagimu itu tidak penting, sungguh sangat mungkin akan ada seseorang yang tersenyum ketika membaca kalimat demi kalimat yang kita tulis. Tuliskan saja. Tak usah pedulikan jumlah pengunjung, pembaca, like, komentar, dan teman-temannya. Tuliskan saja. -Darwis Tere Liye-

Jangan kau baca ini dengan terbata-bata nanti kau bisa berkaca-kaca!! ha ha…

Ruang Putih, yang tak pernah berjam dinding

Selasa, 11 November 00.25

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s