Subuh Teduh

adzan yang menggema

di subuh yang teduh
dan teriakan membangunkan
terngiang dalam ingatan
sebuah tanya
bukan padaNya
bukan pada orangtua
bukan pada saudara
bukan pada manusia
tapi
pada sekotak hati
yang mulai mati
dibayang-bayang sepi
tanya
kenapa aku lalai
dan tersenyum angkuh
padahal subuh sudah dimulai
padahal
ayah ibu sudah gaduh
siap untuk mengayuh
demi perut terisi penuh
kini
tak lagi aku dipeluknya
sudah akil baligh
berjalan sendiri dari waktu ke waktu
aku rindu
teriak panggilnya subuh itu
dan ketika
segera selimutku kusingkap
aku siap menghadap
pada pemilik Subuh
aku masih
bertopeng senyum teduh pada subuh
kendati
teriak panggilnya tak lagi kudengar
sesekali aku harus menyepi
menyapa diriku sendiri
yang terlampau sering terasing
di sudut raung hatiku
 
ps: ditulis pada suatu subuh yang menghanyutkan syair-syair penulisnya. dengan harapan bisa patuh. pada setiap subuh yang teduh.
 
 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s