Belajar Pada Hening

Menjadi lebih sering meneteskan air mata manakala sendiri menyapa saat malam mulai larut. Adalah gelapnya kamar dan sajadah yang masih terbentang menjadi teman yang setia menemani. Mau apa tak usah ditanya, waktu malam seringkali menyajikan drama seorang anak manusia sedang menghamba memohon ampun pada Tuhannya, atau sekedar bertanya pada Tuhannya atas apa yang sudah terjadi. Mempertanyakan nasib, takdir, juga menimbun harapan dalam doa pada sujud-sujud panjang. Malam adalah saat yang tepat mencari tahu segala hal, Tuhan bersedia memeluk orang-orang yang menahan kantuk demi bercakap denganNya. Memandang tangan yang menengadah lalu entah mengapa bibir menjadi terbata sedang ingatan terus memutar setiap detik memori yang mengundang tangis mengingat tumpukan dosa yang meliputi diri. Kemudian dada menjadi sesak seolah nafas tak berarti lagi jika setiap detik hanya diliputi dosa dan khilaf. Memejamkan mata sesaat supaya hati menjadi tenang ada di antara waktu saat Tuhan memeluk. Menghela nafas panjang.

Hembusan angin yang masuk lewat lubang kecil jendela sebentar saja memberikan kesejukan pada tubuh ketika masih dibalut mukena putih. Hening mengajarkanku untuk berpikir perkara yang mungkin salah dilakukan oleh tangan, kaki, juga lisan baik yang disengaja ataupun tidak. Memalukan, sering menjadi manusia yang menganggap diri bisa melakukan banyak hal nyatanya hanya kesombongan dan kekosongan yang didapat. Aku bukan seorang yang pandai merangkai kata menjadi sebuah cerita yang cantik melainkan berusaha jujur mengutarakan isi hati yang barangkali bisa sedikit melegakan. Tampaknya meredakan emosi juga perlu keheningan supaya didapat ketenangan, terlebih lagi ketika berdoa aku lebih suka dalam keheningan supaya keluarlah kata-kata yang benar-benar baik untuk diungkapkan. Bahkan saat menangis, hanya hening yang mampu melihat dengan kacamata nurani.

Adakalanya kita harus menyerah karena waktu memberikan peringatan yang nyata, sebuah sentilan bagi pemilik lakon kehidupan yang berperan di dalamnya.

Tersudut pada satu posisi, membuat kepanikan yang tak berujung. Tapi pada ketenangan, semua bisa diatasi dengan kepala dingin. Begitulah hening mengajarkan bagaimana kita berpikir. Adalah sebuah anugrah manakala kita diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri di antara sisa-sisa waktu kehidupan yang entah kapan akan berakhir. Entahlah, sudah berapa lama kaki berayun dengan langkah santai yang seringkali membuat lalai, terpaksa menjauhkan diri dari harapan. Sebagai seorang yang tak tahu kapan Allah akan memanggil untuk kembali memang harus mulai mengingat dan menimbang setiap detik yang tersaji dengan sesuatu yang baik. Semuanya harus tampak lebih jelas, apakah kita akan melawan waktu atau berlari mengejar ketertinggalan. Akan lebih menyakitkan bila waktu tak lagi bersama kita, menjauhkan diri pada lingkar ketertinggalan. Ini adalah soal pilihan. Bahkan soal pilihan itu kita bebas memilih apa yang diingini, apakah ingin menggunakan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya atau hanya melaluinya dengan berlalu. Bagiku, betapa semua sia-sia jika dibuang begitu saja, melaluinya dengan berlalu. Beruntung seorang yang segera memiliki kesadaran bahwa waktu memang sangat penting dan tak bisa dibayar mahal oleh apapun. Semua memang harus disadarkan.

Dalam hening ada jeda yang tersaji untuk merenung, untuk semua waktu yang telah berlalu aku bertanya, “apa yang kau dapat selama ini?” entahlah, aku tak siap menjawab roncean tanya yang terucap. Bahwa kali ini aku ingin memahami bahwa setiap pilihan punya pertimbangan dan untuk semua waktu yang sudah berlalu, aku mengaku lalai dan terlalu lama berdiam. Tak mungkin harus berbalik arah untuk mengulang semua yang sudah berlalu, aku tak punya kendali. Lalu apa? Jika ini sebuah keharusan, aku ingin berlari mengejar ketertinggalan namun juga tak akan lagi melangkahkan kakiku tanpa petunjukNya. Aku hanya yakin dan percaya Allah selalu punya ruang yang luas untuk hambanya mengurai maaf, dan apapun yang sudah berlalu biarlah itu menjadi angin lalu yang terbang bersama kelamnya masa lalu. Tentang perjalanan ini, aku masih menantikan jawabannya bersama waktu. Semoga disadarkan tentang makna da tujuan. Tentang hidup dalam keheningan.

Ruang Putih

4 November 2014; 3.15

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s