Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana?

Menjelma menjadi seorang individu yang tak ingin dibaca oleh orang lain, mengenalnya hanya lewat kata yang dirangkai pada paragraf tanpa titik.

Sebuah cerita yang dipersembahkan untuk angin, untuk suara, dan tanya yang menggema. Apalagi yang harus aku jelaskan padamu, pada sekian mata yang memandangku penuh tanya meski aku tak pernah menyapa mereka. Sebagian orang menyebutnya “kepo”. Hmmh, apa kau tak cukup memahami bahwa aku memang baik-baik saja ataukah aku yang kurang peka atas kekhawatiranmu pada jalan pikiranku. Barangkali kau menyebutku manusia paling tidak waras yang pernah kau temui. Aku berbaik hati memberimu kebebasan untuk mendefinisikan siapa diriku, tapi aku tidak akan pernah sekalipun meributkan definisi yang kau utarakan padaku. Aku tetaplah aku yang akan menjadi diriku sendiri di balik definisi itu. Aku akan tetap hidup menjadi manusia yang bebas bukan berarti bertindak tanpa memikirkan perasaan orang lain.

Kali ini, disela angin yang mengantarkan bau hujan kau memaksa aku untuk menjawab semua tanya yang kadang menggoyahkan pikiranku. Bagimu, otakku adalah pustaka pikir yang harus segera di bongkar sampai sebenarnya kau sendiri tak tahu bagaimana memaknai pikiranku atas suatu hal. Harusnya, dan harusnya aku bisa menyampaikannya langsung padamu tapi aku memilih menuliskannya sebab jawaban dari sekumpulan pertanyaanmu membuatku menelan ludah dan menghela nafas panjang hingga tak dapat dilisankan. Barangkali benar kata temanku bahwa menulis adalah sebuah terapi diri dan penawar emosi yang paling asik maka barisan bait-bait puisi karya KH. Mustofa Bisri yang sering aku baca saat embun mulai meninggalkan jejaknya pada daun, selepas subuh… cukup mewakili jawaban yang kau butuhkan

“Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana”

Kau ini bagaimana
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir

Aku harus bagaimana
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku taqwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, kau menyontohkan yang lain

Kau ini bagaimana
Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilNya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana
Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap Wallahu A’lam Bisshowab

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana
Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana
Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana
Aku bilang terserah kau, kau tidak mau
Aku bilang terserah kita, kau tak suka
Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana
Atau aku harus bagaimana

-1987-

Untukmu… Masihkah kau ingin bertanya?

Kampus,

Di antara barisan tugas dan jadwal yang padat, rupanya menulis lebih menggoda untuk dilakukan

29 Oktober 2014; 8.47 am

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s