Dan Anginpun Membawa Sekelumit Kenangan

Sebenarnya aku menyayangkan keputusanmu untuk berhenti memperjuangkan apa yang pernah kau pilih dalam hidupmu. Sebuah keputusan besar yang kau ambil sampai aku harus dengan penuh kerelaan menyetujuinya. Hari ini, aku kembali membuka file foto yang sengaja kau titipkan di laptopku karena waktu itu kau tak punya laptop untuk menyimpannya. Pikirmu, kau akan mudah meminta dan mengcopy file-file ini jika suatu saat membutuhkannya hanya karena kau tau aku tidak akan pernah tega menghapusnya karena menghormatimu sebagai seorang sahabat baik. Hingga detik ini saat semua file masih tersimpan rapi di laptopku, bayangan wajahmu muncul mengulang semua cerita yang pernah kita lewati, mengalirkan udara dingin yang menerpaku dari sela-sela jendela kelas di lantai dua.

Lagi-lagi bayangan tentangmu menyibukkanku untuk mengulang semua cerita dengan menuliskannya. Mencoba sejenak memberhentikan waktu untuk mendengarkan materi kuliah, aku ingin menulis sebuah kisah sederhana yang hanya diketahui oleh hati. Sebuah penerimaan.

Dingin. Aku tak berani menatap keluar jendela, takut kalau saja air mata ini lebih cepat menetes karena sejuknya angin yang menerpa wajah. Walaupun aku tahu tanpa menatapnya pun butiran air mata sudah akan menetes. Tetiba dada menjadi sesak tertahan rasa yang lama tak terungkapkan atau mungkin aku yang terlalu pengecut mengatakannya. Waktu itu kau utarakan pilihanmu di hadapanku tepat saat aku menelan coklat terakhir yang kau belikan. Tampaknya kau tidak cukup peka untuk mengerti perasaanku waktu itu bahwa aku tidak ingin mendengarkan langsung pilihanmu itu. Logikaku mungkin sudah pecah, otakku mungkin sedang tak waras saat mendengarmu betapa aku sangat menghindari apa yang akan kau ucapkan. Aku tercengang dan diam. Tentu saja aku kaget dengan mudahnya kau menyampaikan pilihanmu lalu mempertegasnya di hadapanku sekedar meyakinkanku bahwa semua ini akan baik-baik saja jika kita bisa melewatinya. Oh tentu saja untukmu ini mudah, tapi aku? Entahlah.

Kadang aku tak menghiraukan maumu, nyatanya aku cukup kuat bertahan dalam kepura-puraan untuk tahu diri. Aku hanya tahu, pilihan itu yang akan membahagiakanmu walaupun disaat yang bersamaan sebenarnya harus dibayar mahal oleh luka yang masih menganga di hatiku, kalau saja kau tau itu. Kau sempat mengatakan agar aku bebas memilih berdasarkan keinginanku. Namun aku terlanjur memendam semua inginku atas pilihanmu yang membungkam harapanku untuk bisa menikmati kebahagian bersama. Kau tak peduli lagi apa kata mereka tentang pilihanmu, apakah dengan pilihan itu harapanmu akan tumbuh lagi? Aku tahu kita hidup sangat demokratis dalam sekelumit proses yang meninggalkan jejak-jejak hikmah di dalamnya. Tapi kali ini berbeda, cinta tak kenal demokrasi. Jadi akan kubiarkan saja tangan Tuhan yang bekerja memberikan jawaban atas semua pilihan yang kau ambil. Ini tak mudah membuatku jadi seperti ini, diliputi perasaan bersalah, dilema, dan tanda tanya. Kadang kita sering merasa demikian bukan? Kita merasa menjadi manusia satu-satunya yang harus menerima semua ujian dari Tuhan, jatuh berulangkali, merasa sendirian, dan harus menempatkan diri di atas semua perbedaan atas berbagai hal. Mengapa? Karena apapun pilihan yang kau tawarkan adalah pil pahit yang mau tak mau harus kutelan. Bagaimana mungkin aku harus memilih sesuatu yang bertentangan dengan prinsip-prinsip hidupku dan kali itu kau langgar dengan mudahnya, seolah-olah kau juga membuatku harus lebih fleksibel dengan pilihanmu. Aku kerap mempertanyakan apa jawaban Tuhan atas pilihanmu yang sering membenturkan idealitas dan realitas. Ah entahlah, barangkali aku hanya perlu terus menerima dan belajar memahami. Akan tiba waktu saat dimana Tuhan akan menjawab semua tanyaku dengan sempurna. Entah kapan. Entah bagaimana. Aku hanya akan terus berjalan dengan penuh kerelaan menerima semua pilihan yang kau inginkan.

Sore ini, langit Oktober yang mendung memberikanku jeda untuk merenung tentang pilihanmu. Bahwa akan selalu ada orang-orang yang takut untuk memilih hanya karena terkadang pilihan itu membenturkannya pada realitas. Tapi kau? Adalah satu-satunya orang yang dengan tegas memilih jalan hidup jauh dari definisi bahagia secara umum, bahagiamu sederhana yaitu mengikuti apa kata hati. Dengan itu, kau menumbuhkan tunas-tunas harapan yang muncul dalam beningnya cahaya senja.

Selamat menikmati pilihanmu di tanah perantauan, sahabatku

Kampus,

mencuri waktu menulis saat kuliah berlangsung

29 Oktober 2014; 15.43

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s