Melepaskan Isyarat

melepaskan
foto diambil dari tumblr.com

Godaan terbesar ketika menulis adalah tidak tergerak menulis saat ide memenuhi ruang otak, tangan enggan menyentuh tuts-tuts laptop karena bantal lebih asyik untuk bersandar. Lalu apa yang aku lakukan dalam diam? Berangan-angan menatap impian yang kusam di langit-langit kamar. Sudah lama kubiarkan impian itu menggantung tanpa sempat aku menyentuh dengan tanganku yang mulai lelah meniti tangga kehidupan. Kalau ada tanda yang menjadi isyarat saat kulepaskan beban adalah lisan yang mana sering mendustai diriku sendiri. Memaksa hatiku untuk mengelak dan nyaman dengan topeng ambisi yang dikenakan. Apalah arti deretan piala dan lembaran kertas piagam yang kuanyam dari sudut ruang ternama hati jika membungkam setiap inginku. Dalam diam, kupendam semua kisah yang pernah menghujam hidupku. Barangkali bersama hujan, kisah itu semakin terpendam mengalir bersama dinginnya air hujan ke laut yang dalam.

Meski bebas melihat segala hal, menceritakan dari sudut pandang anak manusia yang mana memberikan kesan mendalam pada satu hal dimana tak ada paksaan bagi manusia lain untuk menafsirkan apa yang dituliskan membuat manusia menjadi tak pernah sama di mata setiap manusia lainnya. Sekedar menyapa saat rasa yang tersisa sudah tak seperti biasa. Mengeratkan dua tangan saat bersalaman sembari mata menatap tajam pada manusia di depannya, yang satunya menunduk entah mungkin karena tak kuat menerima tatapan mata yang mengisyaratkan tanya untuk segera menjawab mimpi dan ambisi bertahun-tahun yang lalu. Aku coba menjawab dengan argumen keras tapi kau cukup memberikan kata-kata sederhana yang mematahkan argumen kerasku. Kali ini aku sungguh tak bisa mengelak dari tanya dan tatapan matamu yang menyadarkanku ada seorang yang penuh harap menantikan langkah terbaik atas pilihan yang pernah kuambil. Kau sering menyeka air mata yang jatuh di pipiku dengan kelembutan tanganmu sambil menatapku penuh senyum. Entahlah, aku sudah lupa bagaimana memainkan jariku pada impian yang sempat menguatkan langkah kaki ini. Ada di depanmu, membuatku ku malu hingga terkadang mampu bertengkar dengan hati kecilku, menghadirkan rasa bersalah pada diriku, membuat ragu atas setiap apa yang kuputuskan, mentertawakan diriku sendiri yang tak mampu mematahkan berbagai ketakutan, tak lain semua itu hanyalah imajiku atas rasa sesal yang menjauhkanku pada kemampuan mengelola daya pikir.

Ah iya, barangkali kau adalah satu-satunya perempuan yang bisa melihatku dari sisi yang lain dimana tak ada lagi bayangan arogansi penuh emosi. Dan aku, betapa aku adalah perempuan yang lemah jauh dari kata sempurna dan selalu mengelak dari tanyamu yang sengaja aku biarkan berlalu tanpa jawaban. Entahlah. Allah menghadirkanmu kehadapanku dengan cara yang tidak mudah sebagai orang yang harus penuh kerelaan mendengar keluhku, meskipun sebenarnya aku tak ingin berbagi denganmu. Barangkali kau akan bosan mendengar celotehku. Barangkali kau akan bosan melihat tingkahku yang sering menyebalkan penuh kepanikan memenuhi keinginanku (yang seringkali tak masuk akal). Entahlah kau sudah tahu semuanya bahkan memahaminya. Hanya pada saat kau paling tergoda untuk bertanya banyak hal padaku, aku sungguh tak bisa menjawab banyak karena rupanya air mata ini menetes lebih deras membungkam lisanku. Kau cukup menatapku lekat untuk mendapat jawaban bahwa aku tak cukup kuat untuk melewati semua ini. Sering kugenggam tanganmu karena dengan itu aku sadar aku masih berpijak pada apa yang aku sebut keyakinan, keimanan, dan kebermaknaan.

Mungkin hadirmu adalah jawaban, penegas, penguat, dan penenang seperti katamu hati yang tenang itu memiliki kekuatan yang dahsyat. Aku mencoba memainkan lagi jariku pada tombol-tombol huruf ini, mengurai makna pada sunyi yang sembunyi. Aku sedang mencoba dan akan terus mencoba melunasi setiap tanya yang kau ajukan. Kau tau betapa aku sekedar ingin menggenggam tanganmu saat ini. Betapa aku sedang diliputi ketakutan pada keputusan yang aku ambil dan biarlah rasa itu melebur saat tangan ini kau genggam. Hingga aku tak perlu khawatir bagaimana melewati langkah-langkahku karena kau ada untuk membuatku melihat setiap kejadian dari kacamata Allah.

Di ruang yang selalu menggodaku untuk menulis,
Minggu, 26 Oktober 2014; 23.06

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s