Sang Komandan

“Kau tau, Ndan. Beberapa tahun lalu ada seorang laki-laki yang kusebutnya Ayah membelikan sebuah buku tentang cerita seorang anak lelaki yang biasa dipanggil Komandan oleh teman-temannya. Kemarin aku menemukan lagi buku itu di antara tumpukan buku-buku yang sudah usang dan berdebu. Tidak dapat kupercaya masih saja aku tenggelam dan larut dalam cerita seorang Komandan yang mejelma menjadi sosok anak lelaki yang gagah dan paling berkuasa di antara teman-temannya. Hidupnya jauh dari kedua orang tuanya yang sibuk dengan pekerjaannya. Ia tinggal dengan seorang adik perempuan dan beberapa orang pembantu di rumahnya. Tak inginnya disebut anak lelaki yang lemah membuat ia enggan menunjukkan apa dan siapa dirinya pada teman-temannya. Kupikir diluar kelakuan nakal dan gengsinya yang tinggi, ternyata sang Komandan sangat penyayang. Ya, aku yakin itu. Dapat kulihat pancaran matanya yang penuh dengan rasa sayang pada gadis kecil itu, adiknya. Mila namanya. Tanpa malu ia tunjukkan pada teman-temannya bahwa walaupun ia memiliki kuasa atas teman-temannya, ia dapat tunduk pada adik kecilnya.

Lapangan tempat Komandan biasa bermain dengan teman-temannya kembali ramai setelah hari-hari penuh peristiwa. Tapi tetap saja di tengah keramaian ini, banyak yang merasa kehilangan suasana yang dulu. Sepertinya kehilangan dapat bermutasi menjadi satu bentuk kerinduan yang pahit. ‘aku tidak memerlukan siapapun untuk mengingatkanku ada seseorang yang tidak kembali ke lapangan. Tentu saja sang Komandan.’ Kata Baba. Anak-anak yang bermain bola di lapangan tak seceria biasanya, kabut kesedihan masih terlihat di wajahnya. Kupikir sang Komandan terlalu berarti di hati mereka. Tampaknya kesedihan mereka lebih dari sekedar menangis dan meraung untuknya. Ya, sang Komandan telah tiada. Ia tewas dalam peristiwa kebakaran yang menghancurkan rumahnya. Ia satu-satunya korban yang tewas itu. Walaupun demikian tetap saja Komandan selalu ada di hati teman-temannya.

Membaca cerita sang Komandan membuatku jatuh dalam fantasi, memberikan energi luar biasa untuk merasakan apa yang dialami oleh Komandan dan menjadikannya merasa berarti. Kukira aku cukup pintar menyadari hal itu, tetapi tidak. Betapa hebatnya sebuah cerita hingga membuatku terhanyut ke dalam dunia orang lain, fiksi dan fantasi. Tapi tetap saja aku mengagumi sosoknya, sang Komandan.

“mungkin beginilah rasanya menjadi orang gila yang selalu asyik dengan dunianya sendiri. lost in beautiful fantasy. Yeah!”

Advertisements

2 thoughts on “Sang Komandan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s