Menahan Diri

Aku sedang di lantai dua. Kebetulan ada kamar kosong lengkap berisikan meja dan kursi, kebetulan juga baru saja ditinggal penghuni kostnya pindah ke tempat lain. Kamarku letaknya di lantai satu tapi karena sudah bosan menulis di dalam kamar sendiri, makanya kuputuskan ke atas untuk menulis sambil melihat pemandangan pegunungan Kota Malang. Aku tidak sendirian, sebotol air minum dan jajanan sisa lebaran yang aku bawa dari rumah menemaniku. Lima menit berlalu sudah separuh air minum habis, bukan karena doyan minum tapi karena kehausan jika harus berpikir keras padahal satu paragraf belum selesai di tulis. He he he.

Dengarkan, adzan ashar sudah berkumandang. Mari sholat dulu… memenuhi panggilanNya lebih utama dari melakukan apapun.

***

Bapak/Ibu dosen dengan berbagai tugas dan kepentingannya meng-cancel jadwal kuliah yang ada di hari Rabu, jadilah Rabu menjadi hari libur kuliah lalu dengan kesepakatan yang sudah di rundingkan bersama, mata kuliah yang semula ada di Hari Rabu di pindah ke hari lain. Nikmat sekali kuliah ini ya? Banyak liburnya juga banyak tugasnya. Nikmat yang kau bilang? Iya nikmatilah, kataku dalam hati… Bagaimana jika aku tidak mau memenuhi kesepakatan itu? Jangan harap mendapat nilai. Ha ha ha.

Sudah seharusnya dengan kesepakatan yang sudah disepakati menjadi sebuah tanggung jawab yang harus dijalani. Bukankah begitu? Iya!. Bagaimana jika tidak dilaksanakan? Itu namanya mengingkari apa yang pernah diucap oleh lisan. Rasanya amat menyebalkan menjumpai orang-orang yang sering mengingkari apa yang diucap oleh lisannya. Apa yang dikatakan tak kunjung dilakukan. Mulutnya berbuih mengungkapkan apa saja yang ingin dilakukannya, namun rupanya telingaku sudah kebal dengan semua ucapannya. Dianggapnya semua yang dikatakan bisa dilakukannya. Nyatanya Tong Kosong Nyaring Bunyinya. Walaah, berbunyi juga tong kosong jika dipukul itu rupanya tak ada isinya. Awalnya meyakinkan memang apa yang dikatakannya namun waktu yang berlalu membuktikan ternyata hanya sebuah angin lalu. Dengan memenuhi permintaannya, akupun berusaha membantunya semoga aku selalu hadir kapanpun. Menjadi pendengar yang baik kadang melelahkan.

Tidak bisa menepati apa yang dikatakan pada dirinya saja sudah memberikan isyarat padaku untuk tidak terlalu meyakini apa yang diucapnya, namun tetaplah menghargai dan menjadi pendengar yang baik untuknya. Perihal keinginan yang rupanya sengaja diabaikan olehnya jika tiba-tiba hasratnya berubah, lupa menjadi alasan yang cukup menyembunyikan apa yang pernah diucap lisannya. Sudah kubiarkan saja ia melontarkan banyak kata untuk menjelaskan. Sekalipun menjelaskan dengan banyak alasan aku enggan mendengarnya. Tindakan tidak pernah menipu apa yang diucap oleh lisan. Setidaknya tak usahlah mengatakan apa yang memang tak bisa dilakukan.

Alangkah baiknya jika bisa menahan diri untuk tidak berucap apa yang tak bisa dibuktikan dengan tindakan. Menahan diri untuk diam sambil terus berusaha menepati apa yang diinginkan di hati lebih baik daripada berucap banyak hal tapi tak ada buktinya. Maka yang demikian itu disebut orang-orang yang menepati perkataannya. Menahan diri bahwa tidak semua harus diumumkan, tidak semua harus dikatakan untuk menunjukkan siapa dirimu. Penghargaan tidak tumbuh dari banyaknya ucapan tapi pembuktian lewat tindakan. Singa lebih ditakuti dari anjing karena ia diam. Suatu hari aku akan tersenyum jika melihatmu lebih banyak bertindak daripada berucap. Berkaca darimu, adalah untuk mengingatkan diriku sendiri agar lebih banyak diam dan berpikir sebelum berucap supaya tidak disebutnya “munafik”.

Maka kusampaikan maafku pada seorang teman yang harus mendengar apa yang ku sampaikan demikian ini. Aku takut jika tak diungkapkan nantinya akan menjadi penyakit di hati, namanya dendam. Semoga perkataanmu segera kau buktikan dengan perbuatanmu.

Advertisements

4 thoughts on “Menahan Diri

  1. Dosen juga manusia…….. punya hati punya rasa……. hehehehe….. bukan hal mudah untuk menjadi orang yang mampu seperti apa yang pernah diucapkan. semoga saya mampu dan diberi kekuatan

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s