Mengasing

“Kamu dimana?” tanya seorang teman

“di Rumah tak berpintu.” Jawabku.

Akhir-akhir ini aku sering berkunjung ke masjid di antara perjalananku melakukan banyak hal. Meski hanya sekedar untuk menunaikan sholat sunnah. Kali ini, aku ingin memposting satu tulisan sebelum pulang, tentunya sebelum suasana syahdu jadi hilang.

Kehidupan ini penuh dengan cinta. Termasuk dalam diri manusia selalu dihiasi oleh cinta. Manusiapun dilahirkan ke dunia oleh cinta kedua orang tuanya, ibu dan ayahnya. Lalu tumbuh dan besar di lingkungan yang penuh cinta dan keakraban. Namun pada artian yang lebih luas cinta manusia tak terbatas pada hal-hal yang sifatnya duniawi saja, ada cinta yang lebih hakiki yaitu mencintai Tuhannya, Allah.

Waktu akan terus berputar dan perjalanan hidup akan terus berlanjut. Ada banyak sekali hal yang bisa aku temui di setiap perjalanan panjang yang aku lalui selama ini. Perjalanan panjang itulah yang semakin lama membuat langkah-langkah kecil kakiku semakin kuat berjalan menapaki kehidupan ini. Tak banyak yang tahu jika perjalanan ini memaksaku harus jatuh dan kadang terluka. Namun itu bukanlah satu hal yang besar, menyikapinya butuh kedewasaan. Ada saat-saat tertentu aku harus berhenti sejenak bukan untuk menyepi, tapi untuk bernapas. Bukan pula untuk menghilang, tapi lebih kepada mencari yang hilang dari cinta yang dihadirkan manusia-manusia itu. Ada banyak sekali cinta yang dihadirkan Allah dalam bentuk yang bermacam-macam, meski tak banyak manusia bisa memaknai cinta yang Allah hadirkan. Lalu yang demikian itu menjadi sebuah isyarat yang membuatku mencari makna apa yang dihadirkan Allah dihadapanku.

Pada kenyataannya, tak mudah memang memaknai dan memahami apa yang terjadi. Hingga sempat muncullah pertanyaan yang sudah sejak lama memberontak untuk dijawab. Pertanyaan itu adalah “Apa yang kamu cari?”. Sejak lama pertanyaan itu menghiasi kepala dan menggantung di setiap langkah yang dilewati, menjadi terabaikan karena kesibukan dan kepentingan yang lain hingga akhirnya terasing di sudut ruang ternama hati. Sampai pada satu titik Allah mengetuknya, memaksaku menyusun kepingan-kepingan tanya dan menjawabnya.

Allah mengetuknya dengan cara yang sangat cantik, meski tidak banyak orang yang bisa memahaminya. Waktu itu, salah seorang teman sempat berkata, “Kamu ini memang kuat, sampai-sampai hal yang sifatnya prinsipil semacam itu bisa dilanggar orang dengan mudahnya.”. Tak ada jawaban yang keluar dari mulutku, aku hanya tersenyum. Aku hanya tahu dan percaya bahwa “Tak ada satupun hal di dunia ini yang terjadi tanpa kehendak Allah.”. Pilihannya adalah mau menjadikan apa yang ada dijalani dengan ikhlas dan penuh cinta atau tidak?. Kedua pilihan itu ada nilainya di hadapan Allah nantinya. Tapi aku percaya jika kita mau menghadirkan cinta dan keikhlasan dalam hidup ini, maka tak ada satupun yang terasa berat dan sulit. Percayakan saja pada Allah, sang pemilik skenario hidup terbaik.

Manusia memiliki perannya masing-masing dalam kehidupan ini berdasarkan ketetapan Allah. Jadi tidak usah menyibukkan diri menafsirkan setiap peran yang dimiliki manusia lain. Sekalipun peran yang dijalani manusia itu terlihat salah di mata yang lain, maka keputusan adalah mutlak di tangan Allah. Manusia tidak perlu merasa pantas untuk menghakimi manusia lain. Jika ada yang harus dihakimi dan di koreksi, itu adalah diri sendiri. Manusia hanyalah manusia yang harus selalu siap menghadapi apa yang telah dituliskan oleh Allah. Maka jika masih saja muncul pertanyaan “mengapa?” cobalah untuk menepi sejenak bukan untuk menyepi tapi bertanya pada nurani. Perjalanan panjang yang aku lalui selama ini membawaku pada sebuah pemahaman terbaik tentang hidup yang menunjukkanku pada pelajaran-pelajaran berharga yang Allah hadirkan dari manusia-manusia yang memiliki cinta. Itulah yang akhirnya menjawab semua pertanyaan yang sejak lama terasing, semua yang telah dilewati ternyata membawa cinta dan kedekatan pada sang maha pencipta. Ternyata pelukNya yang selama ini jauh lebih sempurna yang kadang tak aku rasakan, luput dari pandangan.

Manusia tak perlu banyak bicara, menghakimi, atau menuduh. Maka dari itu aku memilih diam. Manusia juga tak perlu sibuk membaca apa yang ada pada diri manusia lain lalu menafsirkannya. Maka dari itu aku memilih menjadi diriku sendiri. Terkadang menjadi idealis itu penting, bukan untuk menentang tapi mempertahankan pandangan tanpa perlu memaksa orang lain memiliki cara pandang yang sama. Termasuk cinta yang Allah hadirkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s