Singkat, Hangat: Cokelat

kedai tong tjiSore hari ini masih sama seperti sore-sore sebelumnya, secangkir cokelat hangat dan tempe mendoan goreng khas salah satu kedai teh ternama di Indonesia menemani soreku. Bedanya kali ini aku menikmatinya dengan kawan lama yang sudah setahun tidak bertemu. Dua menu favoritku tadi menambah hangat perbincangan kami yang baru saja dimulai setelah ia datang terlambat 10 menit dari waktu perjanjian awal. Itu artinya aku bisa menggunakan 10 menit sebelum kedatangannya untuk menikmati kesyahduan sore ini di tengah ramainya pengunjung kedai dengan menulis. Aku ingin memanfaatkan setiap detik waktuku agar tidak sia-sia, seperti kata kawanku itu.

Bagaimana memulai perbincangan, itu mudah (meski awalnya sedikit canggung) karena selama setahun berada pada jarak yang jauh di antara kami, Aku masih sempat berkomunikasi lewat telepon dan blackberry messenger. Maka dari itu kuucapkan terimakasih pada ahli teknologi yang sudah menciptakan alat komunikasi canggih. Hehe.

Usianya 17 tahun di atasku, kita sebut saja namanya Fitri ya? ini menjadi janjiku tidak menyebutkan nama asli sosok yang kuhadirkan pada tulisan-tulisanku untuk menjaga privacy-nya. Jadi yang kau baca itu adalah nama samaran yang aku buat. Hehe.

Aku kagum dengannya, ia sosok perempuan yang sempurna dalam pandanganku. Ia cantik, ia santun, ia juga pandai dalam segala hal. Begitulah aku mengenal sosoknya. Ada sebuah kutipan mengatakan “setiap orang yang kita temui adalah alasan untukku belajar banyak hal darinya” dan sekarang aku belajar banyak hal darinya. Aku baru menemukan pelajaran-pelajaran berharga yang selalu ia selipkan di setiap perbincangan. Ceritanya aku dipaksa mencari makna dari apa saja yang sempat kita bincangkan dan mengambil pelajaran darinya.

Jika tidak mengenal pribadinya secara dekat, mungkin banyak orang yang akan melakukan penilaian bermacam-macam tentangnya tanpa tahu bagaimana sudut pandangnya. “Sudahlah, untuk apa sibuk mendengarkan penilaian orang yang nggak penting itu. Lebih baik sibuk belajar, memperbaiki diri, dan terus melakukan kebaikan bukan hanya untukmu tapi untuk orang lain juga”, begitu katanya.

Terkadang manusia lebih sibuk mengurusi hal yang sifatnya duniawi, menggerutu pada keadaan yang tidak sesuai dengan kenyataan, membanggakan apa yang dimiliki, menilai diri pantas lalu merasa berhak menuntut apa saja yang diinginkannya, termasuk sibuk menilai orang dan merasa pantas menghakimi. Sudah berapa banyak waktu yang terbuang untuk mengeluhkan keadaan dan menilai orang lain, maka sepanjang orang-orang masih saja melakukan itu sesungguhnya menghalangi dirinya untuk dekat dengan Allah, sang pemilik skenario terbaik dalam hidup.

Ditunjukkannya salah satu foto wallpaper dengan kata-kata “Allah malu mendatangkan yang buruk untuk hambanya yang datang kepada Allah dengan cinta terbaiknya”. Kemudian aku bertanya, “Apa yang kamu lakukan?”. Terdengar jawaban yang mencengangkan. “Ketika bersama orang-orang kuhabiskan tawaku dengan mereka, tapi ketika sendirian aku lebih suka menghabiskan tangisku berdialog denganNya”. Kemungkinan dampak pertanyaanku adalah membuatku terdiam dan bertanya pada hati ‘untuk apa waktumu selama ini? menghabiskannya dengan keluhan? Atau apa?’.

Aku masih duduk di hadapannya, merasakan kehangatan pada diriku karena cokelat hangat yang kuminum juga karena menikmati perbincangan hangat ini. Ternyata telingaku masih waras, bisa mendengarkan suaranya yang menenangkan dan menjelaskan dengan penuh kesabaran. Ia yang halus dalam pembawaan turut membawa hatiku pada kebaikan untuk kembali menemukan pemahaman terbaik dan memperbaiki diri dihadapanNya, menyerahkan semua pada yang Maha Berhak.

Aku sebenarnya malu jika ternyata sering mencoba tuli, hasrat menutup mata dari kenyataan dan mengabaikan nasehat-nasehat. Terlintas sekilas pada pikiranku… ketika kaki sudah mulai bisa melangkah jauh melewati sekumpulan orang yang masih terduduk. Ketika itu aku bisa berbangga tapi kemudian terhenti lalu menangis. Rupanya menyesal, menyesal karena sering mencoba tuli dan menutup mata dari nasehat dan pelajaran baik hingga miskin pemahaman. Sehingga mereka yang pernah melihat langkah kakiku langsung terdiam dan tersenyum, memberikan isyarat untuk lebih banyak belajar juga mendengar apa yang aku temui dari setiap orang di perjalanan. Barangkali kutipan “setiap orang yang kita temui adalah alasan untukku belajar banyak hal darinya” harus benar-benar aku tanamkan dalam hidup.

Menyadari semua ini memang butuh perenungan. Berhenti… berhenti dari semua kamuflase yang tanpa sadar diri ini ciptakan, meninggalkan semua kebodohan, dan berhenti mempertontonkan semua rasa, doa, ingin, dan tindakan jika orientasinya adalah keburukan dan duniawi. Barangkali seperti cokelat yang kuminum ini, senikmat atau sepahit apapun rasanya tidak mungkin akan dirasakan oleh orang lain, apa iya harus memuntahkan cokelat ini untuk dilihat orang lain agar semua tahu bagaimana rasanya? Tidak. Itulah proses yang harus dirasakan masing-masing diri. Tidak perlu yang lain tahu.

Ada baiknya mencoba berdiam dan memperbaiki kualitas diri. Menyadari sepenuhnya kehendakNya dan semua kejadian adalah atas ijinNya. Alangkah baiknya semua manusia paham akan ketetapanNya, paling tidak bersabar dan menyadari betapa banyak kesalahan yang dilakukan bukan malah mati-matian membela diri dan memaksa orang lain menyamakan sudut pandang demi membenarkan pendapat atau tindakan diri pribadi. Sungguh semoga ditemukan ketenangan dan kedamaian bagi orang-orang yang selalu memperbaiki diri dan mendekatkan diri pada Tuhannya, Allah. Biar bagaimanapun semua adalah keputusan Allah.

“Bukankah pelukanNya selama ini yang kau rasakan jauh lebih sempurna. Dia mencintaimu lebih dari sekedar cinta manusia. Percayalah… ada seseorang yang selalu menatapmu dari surga dengan bangga. Melihat langkah-langkah kecilmu kini makin kuat. Tak setiap orang bisa sepertimu. Allah sudah menitipkan pelajaran mahal, agar kau naik kelas dan menjadi juaranya”. Itu yang sudah sejak lama ingin kusampaikan untukmu, kata Mbak Fitri.

Itulah… menata hati ke Allah maka semua akan diatur untuk kita. Semoga masih ada waktu untukku belajar banyak hal di antara perbincangan singkat yang hangat seperti cokelat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s