Secangkir Jamu

cangkir jamu

Berharap pada kesembuhan tentunya menjadi doa bagi siapa saja yang sakit. Saat seperti itulah diri mulai menyadari penting dan nikmatnya sebuah kesehatan. Mau tak mau obatpun menjadi makanan rutin selain bubur ayam yang aku hampir bosan setiap hari menyantapnya. Lama kelamaan hal itu menjadi sebuah kebiasaan setiap sakit. Sakit yang sangat lama ini melebihi perkiraanku, meski katanya: aku selalu kuat untuk melewati sakit ini, aku kuat menahan sakit ini. oh sungguh taukah kau, ini tak seperti yang aku rasakan. Menyakitkan sangat. Sayangnya aku hanya ingin menyimpan sakit itu untuk diriku dengan alasan akan berusaha sendiri untuk sembuh dan tidak akan menampakkan sakit ini pada siapapun karena aku masih kuat.

Terasa kini sakit itu semakin sakit akibat ulahku sendiri. Hingga saat datang, aku hanya bisa menangis dan menahan sakitnya. Tapi aku tetap MENIKMATI. Jika tak ada sakit yang sedemikian ini, aku tidak akan menemukan banyak hal selama proses penyembuhan. Sampai suatu saat harus menyepi sendiri, menahan sakit yang amat luar biasa ini dengan bersujud padaNya.

Aku pernah membaca pada sebuah ayat di Al-Qur’an yang bunyinya demikian: “Jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu.” (Q.S. Al Baqarah: 45)

Perintah dalam ayat tersebut merupakan solusi agar kita bisa mengatasi dengan baik segala kesulitan dan probematika yang datang silih berganti. Sehingga melalui ayat tersebut Allah memerintahkan agara kita memohon pertolongan kepadaNya dengan senantiasa mengedepankan sikap sabar dan menjaga shalat dengan istiqamah. Bukankah jelas tertulis disitu sebagai peringatan dan perintah untuk selalu sabar dan shalat menghadapi apapun, maka semoga Allah akan membukakan pintu pertolongannya. Begitulah aku memaknai ayat tersebut, jika ada yang salah mohon koreksinya karena aku masih harus belajar banyak hal, terutama untuk mengenal Tuhanku, Allah.

Sepagi ini aku sudah bangun pukul 03.00, padahal ini hari libur panjang kuliahku. Semestinya aku bisa bangun lebih siang, tapi jadwal berobat mengganggu jam tidur ini. tak apalah, harus berangkat pagi-pagi untuk menghindari antrian pasien yang sangat banyak. Itupula karena lokasinya yang ada di luar kota.

Aku sudah siap untuk berangkat, hembusan angin pagi yang masih sejuk belum banyak asap polusi dari kendaraan bermotor karena masih sedikit yang melintas mampu menyegarkan mata dan pikiran. Apalagi di sepanjang perjalanan aku bisa menikmati hamparan sawah dan gunung yang masih basah oleh tetesan embun pagi.

Jangan biarkan aku mengeluh melewati semua ini, doaku sepagi ini di tengah perjalanan. Satu jam perjalanan dan dua jam menunggu ketika sampai di tempat pengobatan, sudah banyak yang mengantri rupanya. Sekarang tepat pukul 07.00, satu orang pasien lagi yang akan berobat, kemudian giliranku. Sakit yang luar biasa aku rasakan selama setengah jam melakukan proses terapi. Itu cukup membuatku menangis menahan sakit walaupun aku sudah sering melakukanya. Sakitnya tuh disini, katanya. Fiuh.

Jamu, menjadi oleh-oleh rutin setelah melakukan terapi disini. Racikan obat herbal ini cukup membantu meringankan sakit. Meskipun rasanya tidak pahit tapi tetap saja aku ingin muntah ketika meminumnya. Secangkir jamu, semoga aku betah meminumnya seperti menikmati es kelapa muda. Secangkir jamu, menjadi salah satu peringatan dan pengingat untuk menjaga tubuh agar tetap sehat. Secangkir jamu, ukurannya lebih kecil dari segelas es kelapa muda tapi dengan meminumnya semoga didapat kesembuhan. Sepertinya harus memulai hidup sehat dan memperhatikan pola makan yang bergizi biar tak mengkonsumsi lagi secangkir jamu yang getir di mulut. Semoga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s