Bernapas

Aku belum pandai mencari sisi lain dari setiap hal yang kulihat dan temui. Setidaknya aku harus belajar untuk lebih peka melihat sebuah hal bukan hanya dari sudut pandang yang itu-itu saja, dari cara pandang orang kebanyakaan. Bukan tanpa tujuan aku ingin demikian tapi itu berguna untuk melatih hati dan otak agar lebih peka/melakukan sensor terhadap apa yang ada.

Kadang harus kupaksa diriku untuk sebentar saja meletakkan semua keinginan, menjadi manusia tanpa keinginan. Mungkin terlalu lelah di antara pengapnya dunia. Dan tampaknya tersembunyi sebuah kesalahan jika manusia meletakkan semua keinginan pada hatinya. Seakan bisa menggenggam semua yang diinginkannya. Aku hampir lupa diri bahwa kesementaraan ini adalah sebuah isyarat bahwa tidak seharusnya aku meletakkan keinginan di atas segalanya. Ini adalah isyarat agar tidak lupa dari tanggung jawab yang sudah diberikan dan tenggelam dalam wacana mereka yang berpandangan lain.

Rasanya, aku memang butuh waktu untuk diriku sendiri, bercakap dengan Tuhanku, rukuk dan sujud dengan takjim berharap ketenangan hati. Adalah sebuah kenikmatan ketika aku mampu melakukannya, sebentar menjauh dari riuh pengapnya dunia.  Aku berada pada satu titik untuk mengakhirkan kebencian, kekesalan, dan bagian dari masa lalu.  Itu menjadi masa lalu. Ini tidak berarti aku berhenti pada titik itu. Tidak. Aku tetap melangkah menapaki setiap detik kehidupan dengan lebih bernapas. Ya keinginan membuat hidupku lebih bernapas dengan hati yang lapang dekat dengan Tuhannya. Bernapas karena menuliskan perasaan dan selalu melihat pada kebaikan. Bernapas karena diam menyerahkan hidup kepada yang maha berhak.

Akan ada banyak hal baru yang bisa kulihat jika aku berdiam lalu bernapas sampai kembali tenang semuanya. Akan sangat baik jika aku lebih mampu memperhatikan cara berdiam. Bukan sibuk mendengar wacana keruh yang belum tentu kebenarannya. Tampaknya mengalihkan diri dari hal-hal yang demikian tidak sesederhana memindahkan gelas dari satu meja ke meja lain. Lagi-lagi butuh hati dan nalar agar tidak terjebak pada kejadian yang sama tenggelam dalam lubang “wacana” yang salah. Kemudian membela diri dan melakukan pembenaran. Tidakkah itu rumit? Dimana kehidupanmu jika selalu tenggelam dalam “wacana”? masihkah bisa bernapas?. Kali ini kuputuskan untuk bernapas dalam dimensi spiritual, berproses mengenalNya. Berserah padaNya bahwa semua wacana itu tidak mempengaruhi kehidupan. Aku masih tetap melangkah dan menyelesaikan kewajiban lalu mempertanggungjawabkannya.

Seperti sebuah isyarat dan pembenaran Tuhan menunjukkan diriku untuk membaca salah satu ayat dari kitab suci yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman ! Rukuklah, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu dan berbuat baiklah agar kamu beruntung.” (Qs. Al-Hajj : 77)

Bernapas. Berdiam dan mengembalikannya kepada Tuhan adalah satu-satunya cara yang aku miliki.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s