Kau, adalah yang Aku Dengar!

Aku menahan senyum. Karena diam-diam kau suka melihatku berbicara, mendengarkan dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulutku. Sepertinya kau menyimak betul percakapan ini. Tanpa sadar, akupun demikian. Tak henti menatap wajahmu, melihat dirimu yang sangat ekspresif menyampaikan buah pikiranmu. Terlebih ketika aku sering melihatmu berbicara di depan forum, kau sebagai pembicara mampu membius semua yang hadir dengan topik yang hangat dan tak jauh dari kehidupan sehari-hari. Gaya penyampaian yang ringan, lugas, dilengkapi dengan ilustrasi yang sederhana membuat siapa saja tertarik mendengar apa yang kau sampaikan.

Di setiap perbincangan, mungkin kita lupa atau memang sengaja “melupakan” urusan-urusan yang lain karena menikmati apa yang kita bicarakan. Sebuah kenyamanan dari apa yang kita lakukan.

Tentang apa saja yang kita bicarakan, itu tak pernah jadi soal dan perdebatan, justru kau yang tak pernah kehabisan ide untuk bercerita banyak hal, kau yang dengan senang hati membagi isu-isu terbaru untuk kita bicarakan lalu kau menyimpulkannya dan aku dengan mudah mencerna apa yang kau sampaikan. Harus kuakui, aku memang belajar banyak darimu. Satu yang mungkin tak kau tahu. Aku tak melakukan hal seperti ini pada banyak orang.

Kau tahu, aku dan kau punya kemiripan. Kita berdua enggan membicarakan urusan seperti ini pada orang lain. Kita memilih memendamnya. Menyimpannya rapat-rapat. Terlihat aneh, tapi itulah yang kita lakukan.

Menuliskannya adalah satu-satunya pilihan jika dirasa perlu.

Tak banyak yang tahu jalan pikiran orang-orang semacam kita. Tapi pengecualian untukmu, kau yang dengan semangat membicarakan mimpimu seolah itu adalah diriku. Kau tahu benar bagaimana membaca pikiranku. Justru kaulah yang mampu menerjemahkan itu sehingga terlihat jelas. Kau sangat tahu itu. Kau membicarakannya penuh semangat dan sangat mempesona. Aku berdebar mendengarnya, tak sabar melakukan pembenaran atas apa yang kau katakan, lalu diujung pembicaraan kita tertawa lepas.

Mungkin aku sudah terbius dengan pesonamu, mungkin juga karena terlalu sering kau ajak menghadiri acara yang pembicaranya adalah dirimu. Aku suka mendengarmu bicara. Bergairah dan berpengetahuan luas. Dengan menyimakmu, kau menyulut semangatku. Kau menulari mimpiku, menjadi sumbunya.

Kau sering berbicara duluan memecah keheningan, saat aku terdiam menikmati lamunanku. “Kok diem sih? gimana kabar hari ini? kok gak cerita sih?” bujukmu saat aku terdiam. Aku selalu ingat kata-katamu itu. Sementara itu semakin lama saat kita sudah sering berbincang, aku menganggapmu orang yang sudah tak berjarak. Aku menemukan dirimu pada diriku.

Buatku percakapan kita selama ini terlalu asyik untuk kunikmati sendiri. Aku selalu merasa cukup dengan ruang yang kau berikan untuk berbagi cerita. Aku tak butuh ruang yang lebih besar. Cukup. Terimakasih ya sudah mengijinkanku mendengar semua ceritamu. Terimakasih atas sambutan hangat yang selama ini kau berikan untukku.

Hari itu, sebelum kau pergi melanjutkan hidupmu di luar sana. Kita pernah berjanji, akan terus menulis, akan terus berbagi, akan terus membingkai kenangan yang pernah terjadi, mengukir langit-langit, melukis mimpi, dan kembali bertemu jika Tuhan mengijinkan. Sekali lagi aku berterimakasih telah memberikan kesempatan belajar bersama di tempat yang kita yakini mencetak orang-orang luar biasa. Studio itu!

“Kenyamanan tak selalu hadir dari segi materi. Menemukan dan menjadi pendengar yang baik adalah salah satu bentuk kenyamanan dari sisi yang lain.”

Advertisements

2 thoughts on “Kau, adalah yang Aku Dengar!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s