Daun-Daun Berserakan

Selasa pagi, aku melintasi taman kota yang rindang dengan berjalan kaki, di bawahnya penuh daun-daun berserakan yang basah oleh embun dan sisa air hujan. Sepi… dingin… sepagi ini tidak ada yang bermain-main di taman ini, yang ada hanya petugas kebersihan dan beberapa pedagang kaki lima yang mendirikan tenda disini. Pagi ini udara Malang dingin sekali setelah semalam diguyur hujan lebat. Rasanya berjalan di taman ini seperti menghirup udara sedingin di kutub utara. Terlalu hiperbolik ya? Entahlah… aku senang menghabiskan waktu pagi-pagi di taman ini sekalipun sangat dingin.

Aku tidak tahu lagi bagaimana harus melewati daun-daun berserakan ini nanti… esok… lusa… atau di hari-hari selanjutnya. Aku juga tidak tahu siapa nanti yang akan aku temui ketika melewati daun-daun berserakan ini. Akupun tidak tahu apakah akan terus berada disini melewatinya atau berjalan pergi meninggalkannya. Rasanya aku sudah cukup dengan semua yang aku lewati dan dapatkan. Aku bahkan telah banyak melihat yang tidak bisa dilihat orang lain dari kacamata hatinya. Sebuah pemahaman, pengabdian, pengorbanan, dan keikhlasan yang aku kemas dalam diam. Diam yang bermakna. Diam yang selalu menuntun nuraniku untuk tetap bersyukur dan berhenti mengatakan “why me?”.

Tapi kali ini aku kembali mengambil keputusan yang sama sekali tidak pernah aku inginkan dan bayangkan seumur hidup. Sebuah pilihan atas nama kebahagiaannya. Pilihan yang sekali lagi jatuh tepat pada bulan Mei. Itulah yang kemudian menjadi alasanku membenci bulan itu –untuk kedua kalinya.

Maka ketika aku tak siap menyampaikan ini pada siapapun, akan kusampaikan perasaan ini pada dinginnya udara yang menampar wajah, pada tetes embun saat memegang dedaunan, pada daun-daun berserakan yang tertiup angin, pada burung-burung origami yang menggantung di langit-langit, dan tak tahan lagi hingga bisa jadi menangis. Dan tak lupa, kusampaikan rasa ini, pilihan ini, dan jalan hidup ini pada yang maha menyayangi. Kugantungkan harapan dan doa ini pada sang pengatur detak jantung. Semoga semua pilihan dan kehormatan perasaan ini dibalas dengan sesuatu yang lebih baik olehNya.

Hmmmh… daun-daun ini masih saja berserakan ya? aku sendiri belum bisa menjawabnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s