Belum Ada Judul

Banyak sekali alasan dan janji yang sering kuucapkan pada diriku, hanya untuk membenarkan diriku sendiri atau mengelak dari kenyataan yang ada di depan mata. Aku sering tidak mengakuinya, menganggapnya hanya sebuah omong kosong yang tidak penting dan mungkin khilaf aku ucapkan. Duh, bodohnya diri ini jika menganggap semua itu hanya seperti itu. Dimana kesantunan nurani yang dulu pernah Bunda ajarkan?

Aku mengatakannya seperti memarahi diriku sendiri, aku bahkan malu jika harus membaca draft, list, dan jobdesk yang sudah kutulis dan tertata rapi di sebuah buku lalu membatalkannya, seketika itu mengelak pada diriku sendiri dengan berbagai macam alasan yang aku buat sendiri. Tidakkah aku ingat bahwa Allah juga mendengar janjiku pada diriku sendiri?

Aku bisa menyimpulkan, mungkin bukan aku saja yang sering mengalami hal serupa. Bisa saja kamu, temanmu, dan siapapun itu. Aku lalu menyadari kemunafikan yang ternyata diciptakan oleh manusia sendiri. Bagaimana meninggalkan itu? Bagaimana? Hanya diri kita sendiri yang bisa.

…saat kemunafikan itu terlalu besar, kita lupa sudah, bahwa kita telah berada di dalamnya–tapi tetap merasa paling benar. -darwis tere liye

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s