MENCINTAI PILIHAN #1

Kali ini aku akan cerita soal awal mula “terjebak” di dunia tulis menulis. Kenapa bisa gitu? Sebenarnya semua berawal waktu SD, ketika itu aku masih kelas 4 SD (masih unyu-unyu), di kelas sering banget nulis puisi dan hampir setiap waktu luang diisi dengan makan dan nulis (awal itu masih bisa nulis puisi, pantun, dan nulis cerita di diary), sebuah ritual yang tidak pernah terlewat. Meskipun waktu itu cuma bisa nulis dengan kata dan kalimat yang sederhana, tidak memperhatikan diksi atau kaidah penulisan yang benar, tapi bisa enjoy loh ketika nulis. Ada lagi yang lebih seru nih, waktu itu aku selalu excited waktu pelajaran Bahasa Indonesia, karena materinya emang seputar menulis puisi dan pantun. Wah, kesempatan nih untuk melatih kemampuan menulis -sejak dini-. Setahun duduk di kelas 4 aku sudah menghasilkan beberapa tulisan tapi kebanyakan masih ditulis di kertas-kertas dan sekarang entah hilang kemana, mungkin sudah berdebu dan berabu entah tertiup angin kemana. Naik ke kelas 5 SD mulai tuh aku ditunjuk oleh guru Bahasa Indonesia untuk mengikuti lomba menulis, nah sejak saat itu aku lebih sering menulis puisi dan cerpen juga membaca kumpulan-kumpulan cerpen yang dipinjami oleh guru. Tapi sayang aku belum berhasil menjadi juara waktu itu, tapi itu cukup menjadi pengalaman pertamaku mengikuti lomba menulis. Naik ke kelas 6 SD aku lebih sering bereksperimen dengan teman-teman untuk menulis puisi, aku dan tiga orang temanku memberanikan diri untuk menulis kumpulan puisi di sebuah buku, kami sering membawa buku itu bergantian untuk menulis beberapa puisi.

Itu tadi kan waktu masih SD. Kali ini masa-masa SMP. Sekolah di MTsN 2 Kediri, aku mencoba ikut seleksi anggota jurnalis Fikruna waktu kelas 1. Tapi sayang, waktu itu aku tidak di terima, padahal menurutku aku sudah menjawab semua pertanyaan dengan benar.  Mungkin emang belum waktunya ikut komunitas itu ya. Sekolahku itu terkenal sekali sering ikut lomba kepenulisan, jurnalis, dan mading dan selalu banjir juara. hehehe. Promosi sedikit. Karena tes jurnalis tidak diterima, aku pun tidak putus asa, aku lalu ikut tes Karya Ilmiah Remaja atau KIR. Naik ke kelas dua aku masih rajin menulis di diary, nulis apa aja yang bisa di tulis. Saat itulah aku mulai mengenal blog dan rajin ke warnet buat posting tulisan di blog, waktu itu masih pakai blogspot. Karena seneng kenal dengan media baru untuk nulis di internet, makanya tiap hari posting terus -meskipun tulisannya asal-asalan-. Dan pucuk dicinta ulampun tiba, aku direkrut oleh tim Jurnalis Fikruna -tanpa tes- entah apa yang membuatnya seperti itu. Wuiiih kegirangan sekali aku waktu itu, Alhamdulillah. Kegiatan jurnalis sekolah itu aku ikuti dengan senang hati dan semangat. Hingga tibalah masa-masa sering ada event dan lomba. Kamipun rela nglembur bermalam di sekolah demi Lomba mading dan serangkaian lomba lain, tak sia-sia semua itu. Juara 1 pun sering kami raih, mulai tingkat regional sampai provinsi. Wiiw keren, dan semakin menambah kecintaanku pada dunia jurnalis dan menulis.

“Semua berawal dari keinginan yang sederhana, lalu mulai mencintai keinginan sederhana itu, datanglah sebuah kesempatan, tumbuhlah totalitas dan cinta. Nikmatilah…”

(baca lanjutan ceritanya yap… to be continue…)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s