SELAMAT JALAN, Bunda!

Ada segelintir orang yang benar-benar aku pedulikan dalam hidupku, yang tanpa disadari mereka menjadi penting dalam hidupku.

Kedukaan itu masih tersisa sejak kepergiannya. Aku masih saja menangis mengenangnya, juga ketika membaca pesan BBM-nya di smartphoneku. Aku masih tidak menyangka, pertemuan malam itu, 16 Januari 2014 ternyata adalah yang terakhir –untuk selamanya. Waktu itu aku sempat menjenguknya, di RS. Dr. Soetomo, tepatnya di Graha Amerta. Sakit kanker darah atau Leukimia yang menyerangnya mengharuskan Bunda kemoterapi dan di rawat di Surabaya. Meskipun beberapa hari setelah itu sudah pulih, namun apalah daya manusia. Allah lebih memilih untuk “menjemputnya pulang”. 31 Maret 2014, Allah memanggilnya pulang, waktunya di dunia sudah habis dan aku berdoa semoga diberikan tempat terbaik disisiNya.

Oh ya, aku belum memperkenalkannya. Yosi Adilla namanya, di sekolah biasa di panggil Bunda karena kedekatannya dengan anak-anak. Bunda, begitu aku dan teman-teman memanggilnya. Ia guru di sekolahku dulu, MTsN 2 Kediri, katakan saja guru favorit di sekolah favorit. Ya, karena kedekatannya dengan siswa dan orangnya yang easy going membuat kami (para siswa) nyaman ada di dekatnya. Aku sendiri terbilang cukup dekat, meskipun aku tidak ada ikatan darah dengannya. Kami sering jalan bareng, curhat, sharing, yaaah dekat sekali lah pokoknya meskipun aku sudah lulus dari sekolah itu beberapa tahun yang lalu. Aku kagum dengannya, ia tipikal seorang ibu yang perfect. Banyak orang nyaman ada di dekatnya, ia seorang yang selalu bersedia menjadi pendengar yang baik bagiku dan teman-teman. Buanyak sekali kebaikan-kebaikannya, tentunya aku tidak bisa sebutkan disini satu per satu. Yang jelas, kemarin ketika takziah, orang-orang ramai berdatangan mengantarkan kepergiannya, sebuah penghormatan terakhir untuknya. Sejak dulu aku selalu meyakini “Jangan tanyakan berapa banyak kebaikan yang sudah ia lakukan dalam hidupnya. Jika di akhir hidupnya orang-orang ramai berbondong-bondong datang untuk takziah, ia adalah malaikat dunia.”

Semoga air mataku tak lagi menetes menangisinya. Semoga Bunda tenang disisiNya. Selamat jalan ya bun, maaf aku belum sempat membalas semua kebaikanmu. Aku ikhlaskan dirimu disana, di tempat terbaik yang Allah sediakan.

 

aku hanya tahu benar-benar meyakini, meski kini kau tak lagi ada di sini, kenang baikmu selalu ada di kepala setiap senja menemaniku berdoa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s