BONGKAH PERASAAN

Demi alasan apapun aku memutuskan untuk mundur selangkah jika bersua dengan bongkah ternama “perasaan”. Ya lebih baik aku mundur dan menggantungkan perasaan-perasaan itu hanya pada Sang Pengatur Detak Jantung, maha pembolak-balik hati. Aku membiarkan diriku bergerak sebagaimana mestinya sedangkan pikiranku berkelana entah kemana. Lalu beberapa saat, kelopak mata terasa hangat, jantung dan hati sudah mengirimkan sinyal ke otak, kelenjar air mata mulai bekerja. Ah perasaan itu.

Untuk urusan yang satu ini aku menyerah, mengembalikan semuanya padaNya. Karena aku tahu, siapapun akan lebih banyak berdusta jika berurusan dengan perasaan. Aku tak bisa melihat, Allah beri mata. Aku tak bisa mendengar, Allah beri telinga. Aku tak bisa bicara, Allah beri mulut. Kesemuanya itu berguna. Tapi perasaan? Mengapa Allah ciptakan perasaan yang seringkali mendustai diri sendiri, membenarkan yang salah, menyalahkan yang benar sekalipun tahu bahwa kebenaran dan kesalahan itu tegas adanya. Perassan memiliki… mencintai… dan kehilangan. Perasaan yang bisa membuat orang bahagia bukan main dan menangis tanpa air mata. Kenapa perasaan itu ada?

“Mengapa Kau letakkan bongkah perasaan yang seringkali menjadi pengkhianat sejati dalam tubuh kami. Mengapa? Ya Rabb, jika bongkah “perasaan” ini telah kami salah gunakan sehingga menyakiti orang tua kami, keluarga kami, teman-teman kami, sahabat kami. Ampunilah rasa dan perasaan itu ya Rabb.” –tere liye.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s