Percikan Hati Nurani #1

Aku sudah terlampau malu untuk mengutarakan niatku meminta lembar demi lembar rupiah untuk mengisi kantongku. Meskipun sebenarnya kantong ini sudah tipis dan hanya cukup untuk makan dua hari ke depan. Uang kadang memang selalu mengaburkan niatku dari tujuan awal. Tapi tadi perjalanan pulang dari kampus aku bertemu seorang ibu paruh baya dengan pakaian kusam dan berjalan agak pincang menaiki bus kota, setelah mengatakan permisi padaku, ibu itu duduk di jok kursi bus sebelahku. Setelah melemparkan senyum padanya dan mempersilahkan duduk, aku memulai pembicaraan singkat dengannya. Jarang loh aku seperti itu, aku tidak biasa memulai pembicaraan dengan orang-orang yang baru aku temui kecuali jika dia memang menarik perhatianku dan mengundang pikiranku untuk terus melakukan pengamatan.

“mau kemana bu?” tanyaku ramah

“Oh aku mau ke Kediri mbak. Mau habis ko rumah e mbak ning Pare” (aku mau ke Kediri mbak. Tadi habis ke rumah kakak di Pare.”

“Ooalah” jawabku singkat, karena aku memang tak bisa memulai pembicaraan panjang. Hehehe.

“Enggak mbak, yo ngene iki lho mbak nasib e wong cilik. Aku mau ne rumah e mbakku arep nyilih duit iki mbak, anakku loro mbak bar operasi.”

“Lho sakit nopo bu?”

“Usus buntu mbak. Anakku ne rumah sakit ga oleh di gowo muleh mbak. Iki aku nyilih duit kok ya gak di kek i karo mbakku. Cuma nyilih 150 ewu thok lho mbak. Jadwal e ngko sore terakhir bayar.”

Aku hanya diam, melemparkan senyum getir dan penyesalan karena telah menanyakan hal itu. Tapi terlambat, ibu paruh baya ini terlanjur membuatku tenggelam merasakan sesaknya himpitan ekonomi yang ia rasakan. Yah, lagi-lagi dibuka dengan cerita yang -pahit- dalam waktu yang sesempit ini. Disetiap perjalanan yang aku lakukan, aku memang selalu disuguhi dengan wajah-wajah orang Indonesia ‘asli’, mulai dari yang paling tulus sampai yang paling miris.

“Lha piye mbak, aku mau niat arep nyilih duit 150ewu, mulih cuma digawani beras karo duit 5000.”

“Lha pun pados arto teng pundi mawon?”

Aku wis mubeng-mubeng mbak golek silih an tapi gak entuk-entuk. Lak mbakku nyilih i padahal minggu ngarep ki tak balikne. Aku adol lemari karo dipan gung payu mbak.” Lanjut cerita ibu itu sambil mengusap matanya yang berkaca-kaca dengan kain bajunya yang kusam.

Aku tak tega menatap atau mendengar ceritanya lagi, kulemparkan wajahku menatap hujan yang menetes di luar jendela, suara sumbang klakson yang dibunyikan sopir rasanya kalah dengan suara hujan di luar. Aku menghela nafas panjang, diam, menata hati supaya tak mengirimkan sinyal ke otak untuk meneteskan air mata.

Tanpa kusadari waktu serasa membeku, memaksaku untuk terus duduk, diam, dan mendengarkan keluh kesah dan cerita ibu paruh baya di sampingku ini. ingin rasanya diri ini berteriak, memberontak, menarik diriku sendiri keluar dari fragmen ini. Dalam kondisi yang seperti itu dimana seorang yang duduk di sampingku membutuhkan bantuan, aku masih sempat berpikir akankah aku membantu atau hanya bersimpati saja dengannya atau aku memang takut dibohongi. Sampai ketika aku akan turun di halte depan, tak ada gerak dari tanganku untuk mengambil selembar atau dua lembar rupiah sisa uangku untuk membantu ibu itu. Turun dari bus kota aku masih berjalan gontai memikirkan kejadian dan percakapan di dalam bus tadi. Aaah aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri, menyesali yang sudah terjadi.

Duh bodohnya aku! Aku tak berhenti menyalahkan diriku sambil berjalan dalam diam dan tetesan air mata. Bodoh! Manusia apa kamu ini jika lebih memikirkan materi daripada kemanusiaan. Dimana hakikat manusia yang sesungguhnya. Ah saya muak dengan diri saya pada posisi seperti ini. Bisa-bisanya bersikap begitu bodoh. Bukankah Allah juga sudah menjanjikan akan memberikan pahala berlipat bagi siapa saja hambanya yang membantu orang lain. Maka lain kali aku tidak akan membiarkan paparan naluriku mengalahkan nuraniku.

“Manusia itu saling berbagi dan mengisi. Memahami bukan karena sebuah kewajiban. Terkadang kata menjadi abu yang membelenggu, namun berbeda dengan rasa, rasa tak pandai beringkar diri, ataupun mangkir untuk mendustai.” -Rahka 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s