Bosan dan Bonsai

Aku mulai lelah dengan rutinitas yang membosankan, melihat dan melakukan banyak sekali hal dan tanggung jawab yang selama ini dilakukan dengan monoton. Meskipun aku bisa saja mengubahnya sendiri, tapi apa mau dikata, ada sebuah sistem yang mengikat.

Mungkin berikut adalah jawaban oleh Darwis Tere Liye yang –menurut saya– bisa membuat tersenyum sekalipun tidak ingin untuk tersenyum.

Terkukung

Apakah kita merasa hidup ini membosankan? Menyebalkan?

Di rumah banyak sekali larangan.

Dilarang ini, dilarang itu.

Di sekolah atau kampus juga banyak sekali yang harus dikerjakan, ini itu.

Di kantor apalagi, itu-itu saja, disuruh-suruh, masalah muncul tidak ada habisnya.

 

Apakah kita merasa terkukung dalam hidup ini terlalu banyak peraturan?

Mau itu nggak boleh, mau ini nggak boleh. Kenapa sih?

Kenapa orang nggak boleh bebas, mau ngapain kek, mau apalah kek.

Terserah masing-masing.

Bukannya dikit-dikit di teeett, awas loh.

Dikit-dikit, hei, jangan loh.

 

Apakah kita merasa terkukung dalam hidup ini? apakah demikian?

 

Saya tidak mahir memberikan solusi hal ini. Karena toh, saya juga sering bosan, sebal, terbatas, terkukung oleh banyak hal.

Maka, saat perasaan itu hinggap di hati, membuat beban pikiran, mengganduli langkah kaki, saya memutuskan untuk memikirkan banyak hal menakjubkan tentang dunia ini.

Salah satunya, yang mungkin bermanfaat bagi kalian, jika lagi sebal, saya suka memperhatikan kebun teh. Pernah pergi ke kebun teh? Melihat hamparan pohon teh?

Duhai tidakkah kita semua tahu, seumur hidupnya, pohon teh itu dibonsai.

Tidak bisa tumbuh semau dia. Tidak bisa tinggi semau yang dia inginkan. Pohon teh itu terus menerus, secara sistematis, konsisten, dibonsai oleh manusia. dipetik daun atasnya, tumbuh dikit, dipetik lagi.

Maka lihatlah nasibnya yang malang, pohonnya “kekar berotot” karena proses pembonsaian jangka panjang. Bukan cuma bulan, melainkan bertahun-tahun lamanya hingga akhir hayatnya. Tidakkah pohon-pohon ini kepingin lebih tinggi? Agar bisa menghirup udara pegunungan lebih lega, agar bisa menatap lembah-lembah luas berkabut lebih nyaman? Sayangnya, ribuan jumlahnya, nasibnya terus dibonsai, agar menghasilkan sesuatu yang amat spesial. Terhidang di meja-meja dari meja bermain menyeduh teh anak-anak hingga meja ratu Inggris. Diminum mulai dari orang-orang pinggiran, hingga bangsawan.

Itulah pengorbanan pohon teh. Pohon yang wujudnya di benak kita semua hanya sepinggang saja. Padahal aslinya, kalian pernah melihat tinggi pohon teh asli? Yang tumbuh tanpa di bonsai? Kalian akan takjub melihatnya. Tapi sudahlah, itu tidak penting. Boleh jadi pohon teh bahagia dengan jalan hidupnya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s