#1 Topeng

Ketika apa yang aku ucapkan tak lagi bermakna. Diam adalah satu-satunya pilihan. Sedangkan jiwaku terus memaksaku untuk menyelami rawa gulita itu. Pedih… perih rasanya harus terlihat tegar menyelaminya. Aku bahkan sudah bosan menenteng topeng senyum tentang apa yang aku tentang. Atau aku harus diam dan mendiamkan semua yang aku benci. Tetesan air mata bukan hal yang tak biasa. Tapi senyum ini selalu palsu. Bosan, ingin rasanya menelanjangi sudut-sudut kebohonganku. Karena bagaimanapun kerasnya aku berpikir tidak pernah memberikan manfaat untuk diriku sendiri. Aku terpaksa berjalan menenteng topeng senyum itu. Ya mulai sekarang aku akan mencoba mengalahkan diriku sendiri. Bukan harus meratap tapi menatap penuh harapan. Semoga semuanya akan membawaku kembali mengerti siapa diriku sebenarnya. Menyandarkan kembali tubuhku pada Yang Maha Segalanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s