Sebuah Jurnal untuk Ujian Akhir Semester

MENCERDASKAN ANAK DENGAN IQ, EQ, DAN SQ SERTA PERAN PENDIDIK DALAM MELEJITKANNYA

FARAH ADIBA NAILUL MUNA

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI MALANG

Email: farah.adiba@yahoo.co.id

Abstrak. Kecerdasan memberikan banyak manfaat bagi setiap individu, dan akan mencapai puncaknya jika diasah dan diaktualisasikan sebagaimana mestinya. Karena itu setiap individu perlu belajar melejitkan kecerdasannya  yang didorong oleh rasa ingin tahu yang tinggi. Penanaman kecerdasan hendaknya dilakukan sejak dini pada setiap individu, karena pada usia dini adalah masa golden age yang merupakan usia terbaik untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya. Anak-anak adalah masa depan dan suatu kebahagiaan tersendiri jika orang tua memiliki anak yang cerdas. Dengan generasi yang cerdas itu berarti orang tua telah memberikan masa depan yang cerah bagi mereka, kesadaran seperti ini nampaknya cukup merata dikalangan orang tua yang peduli. Hal itu menjadi perhatian khusus bagi pendidik (orang tua dan guru) dalam melejitkan kecerdasan IQ, EQ, dan SQ anak. Pekerjaan kita saat ini adalah bagaimana menerapkan kecerdasan IQ, EQ, dan SQ dapat dilejitkan pada anak.

Kata Kunci: Kecerdasan IQ, EQ, dan SQ, Orang Tua dan Guru, Anak-anak

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Setiap anak yang terlahir normal baik fisik dan mentalnya pasti memiliki potensi kecerdasan yang bisa membantunya menjalani kehidupan, namun kecerdasan-kecerdasan itu perlu diasah dan dikembangkan agar potensi anak berfungsi maksimal. Dunia pendidikan yang semakin maju kini mulai lebih konsen pada tiga kecerdasan tersebut karena tantangan global yang harus dihadapi setiap anak di setiap waktu. IQ, EQ, dan SQ adalah satu paket kecerdasan yang harus dimiliki secara utuh oleh setiap individu karena ketiganya adalah kecerdasan yang saling menunjang, terintegrasi dan berpengaruh satu sama lainnya.

Satu hal yang harus diperhatikan bahwa melejitkan IQ, EQ, dan SQ berarti memusatkan perhatian kita pada kata “bagaimana” untuk mencapai itu. Disinilah peran pendidik sangat diperlukan yaitu orang tua dan guru karena dalam hal ini mereka memiliki andil yang cukup besar dalam kehidupan anak. Karena begitu pentingnya peran pendidik dalam lingkungan pendidikan yang nantinya mempengaruhi pertumbuhan seseorang anak, sehingga kualitas pendidik selalu diperhatikan. Oleh karena itu, saya merasa penting untuk mengangkat masalah tentang mencerdaskan anak dengan IQ, EQ, dan SQ serta peran pendidik dalam melejitkannya.

KECERDASAN

Kecerdasan adalah karunia tertinggi yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia. Kecerdasan akan mencapai puncaknya jika digunakan sebagaimana visi dan keberadaan manusia yang ditetapkan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata cerdas di definisikan sebagai kesempurnaan perkembangan akal budinya (untuk berpikir, mengerti, dsb) dan ketajaman pikiran. Sedangkan kecerdasan di definisikan sebagai perbuatan mencerdaskan menyempurnakan akal budi. Menurut buku “A Comprehensive Dictionary of Psichological and Psichoalitical Terms” dalam Panduan Lengkap Paud Melejitkan Potensi dan Kecerdasan Anak Usia Dini, istilah intellect berarti: pertama, kekuatan mental dimana manusia dapat berpikir; kedua, suatu rumpun nama untuk proses kognitif, terutama untuk aktifitas yang berkenaan dengan berpikir misalnya menghubungkan, menimbang, dan memahami; dan ketiga, kecakapan terutama kecakapan yang tinggi untuk berpikir. Menurut kamus Websster New Word Dictionary of The American Language, istilah intelect berarti kecakapan untuk berpikir, mengamati atau mengerti, kecakapan untuk mengamati hubungan-hubungan, dan sebagainya.

Secara umum kecerdasan di pahami dalam dua tingkat yakni: kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran; dan kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan dan pengetahuanpun bertambah. Jadi mudah dipahami bahwa kecerdasan adalah pemandu bagi kita untuk mencapai sasaran-sasaran kita secara efektif dan efisien.

Penulis menyimpulkan bahwa kecerdasan adalah sesuatu yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap manusia yang terlahir. Kecerdasan itu diberikan sebagai bekal dan kemampuan individu menjalani kehidupannya dan berinteraksi dengan sesamanya.

MENCERDASKAN ANAK DENGAN IQ, EQ, DAN SQ

Ketika berbicara tentang mencerdaskan anak, maka sepenuhnya kita mencurahkan perhatian pada IQ (intelligence quotient), EQ (emosional quotient), dan SQ (spiritual intelligence). Ketiganya membentuk hirarki kecerdasan yang mesti dimiliki secara utuh oleh setiap anak dan diri kita sendiri. Karena IQ, EQ, dan SQ merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisah pisahkan. Tiga tema kecerdasan itu akhir-akhir ini marak diperbincangkan baik di media massa maupun dalam dunia pendidikan. Kajian mengenai ketiga kecerdasan tersebut menjadi concern oleh banyak orang, terutama oleh mereka yang terlibat dalam dunia pendidikan, oleh para ahli yang konsen terhadap persoalan-persoalan perkembangan anak, dan tentunya oleh orang tua yang menginginkan anaknya menjadi cerdas.

Intelligence Quotient

Inteligensi atau lazim disebut IQ adalah bentuk kecerdasan yang sangat penting dalam dunia akademis. Pada bagian IQ penekanan lebih diarahkan pada kemampuan matematis, kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar. Kecerdasan ini erat kaitannya dengan kemampuan kognitif yang dimiliki seorang individu.

Kecerdasan ini awalnya menjadi konsen bagi kalangan pendidikan dan psikologi namun seiring perkembangkan waktu ada beberapa ahli yang menemukan teori multiple inteligence. Dalam buku Melejitkan IQ, IS, dan IE dikemukakan pendapat psikolog pendidikan seperti Charles Spearman, Thurstone, Guilford dan Gardner, mengembangkan konsep kederdasan baru yang dikenal dengan multiple intelligence. Multiple intelligence, yakni teori faktor jamak di mana kecerdasan manusia dianggap memiliki tujuh dimensi yang semi otonom, masing-masing adalah (1) Linguistik, (2) estetis-musik, (3) matematis-logis, (4) visual-spasial, (5) kinestetik fisik, (6) sosial-interpersonal dan (7) intra personal. Disebut dimensi-dimensi yang semi otonom, karena orang yang cerdas dalam satu dimensi, misalnya matematika, tidak selalu cerdas pada dimensi lainnya, misalnya estetis-musik. Teori ini banyak dirujuk sejumlah pihak karena dianggap bisa memberikan deteksi dini terhadap bakat, potensi, dan kecenderungan anak.

Emosional Quotient

IQ yang tinggi belum tentu menjamin seseorang mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial dan masyarakat. IQ yang berperan dalam dunia akademis juga harus ditunjang dengan kecerdasan emosi atau emosional intelligence (EQ). Dalam Wikipedia Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan. Sedangkan, kecerdasan (intelijen) mengacu pada kapasitas untuk memberikan alasan yang valid akan suatu hubungan. Kecerdasan emosional (EQ) belakangan ini dinilai tidak kalah penting dengan kecerdasan intelektual (IQ). Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional dua kali lebih penting daripada kecerdasan intelektual dalam memberikan kontribusi terhadap kesuksesan seseorang. (www.id.wikipedia.com/kecerdasanemosi. Online. diakses 14 Desember 2013; 19.49)

Seseorang yang memiliki kecerdasan EQ ia mampu berinteraksi dengan baik dan proporsional dan juga mampu mengendalikan diri dari nafsu yang liar. Setiap orang yang mampu berinteraksi dengan orang lain secara baik dan mampu mengendalikan diri bisa dipastikan ia memiliki “pengetahuan tentang diri” baik diri sendiri maupun orang lain. Akhir-akhir ini sering kita lihat banyak terjadi kasus kekerasan, kriminalitas, dan kenakalan emosi menjadi salah satu fakta masih kurangnya pendidikan EQ pada setiap individu. Jika hal tersebut terjadi pada usia anak-anak, mungkin hal itu dikarenakan latar belakang dan setting keluarga yang tidak harmonis atau faktor-faktor lingkungan sosial yang kurang baik. Tetapi hal itu tetaplah bersifat eksternal atau faktor kedua. Faktor penyebab utama adalah faktor yang ada pada diri yang bermasalah itu sendiri. Hal itu karena pengetahuan pada diri sendiri tidak dimiliki, akibatnya terjadi kekosongan yang kemudian diisi oleh sentimen, kemarahan, kesombongan, dan sifat-sifat buruk lainnya.

Kecerdasan EQ bisa dikatakan lebih berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang daripada kecerdasan IQ. Meskipun kecerdasan emosional tidak secara langsung meningkatkan IQ, tetapi jelas peranannya di dalam kehidupan sangat besar. Itulah maka EQ justru dikatakan lebih besar dan lebih menentukan daripada IQ dalam meraih kesuksesan hidup manusia. Untuk itulah maka orang tua harus secara cermat mengembangkan kecerdasan emosional anak-anak agar mereka menjadi orang-orang yang sukses dalam kehidupannya.

Banyak sekali fenomena anak cerdas yang terasa memprihatinkan. Contohnya saja seorang ibu yang mengeluhkan gadis kecilnya yang pendiam padahal kata ibunya ia adalah seorang anak yang cerdas. Ibunya mengatakan bahwa gadis kecilnya itu sangat pemalu, mudah sekali menangis, dan tersinggung. Hal itu dikarenakan terjadi selisih yang sangat jauh antara pertumbuhan IQ yang begitu cepat dengan EQ-nya yang lambat. Tentunya harus diingat, bahwa jika fenomena tersebut terjadi pada anak-anak adalah suatu hal yang memprihatinkan dan bisa jadi ketika dewasa ia tidak akan mampu memecahkan problem-problem pada diri dan lingkungannya.

Berdasarkan uraian di atas, konsep kecerdasan emosi anak usia prasekolah perlu dipahami dan dikaji lebih dalam agar menjadi bahan masukan bagi orangtua, pendidik/guru atau orang dewasa lainnya untuk dapat dilakukan pengembangan kecerdasan emosi sejak dini.

Spiritual Quotient

Kecerdasan spiritual atau SQ adalah bentuk kecerdasan yang lebih menekankan pada kemampuan memahami diri sendiri, agama, dan Tuhannya. Kecerdasan spiritual atau yang biasa dikenal dengan SQ (bahasa Inggris: spiritual quotient) adalah kecerdasan jiwa yang membantu seseorang untuk mengembangkan dirinya secara utuh melalui penciptaan kemungkinan untuk menerapkan nilai-nilai positif. SQ merupakan fasilitas yang membantu seseorang untuk mengatasi persoalan dan berdamai dengan persoalannya itu. Ciri utama dari SQ ini ditunjukkan dengan kesadaran seseorang untuk menggunakan pengalamannya sebagai bentuk penerapan nilai dan makna. Kecerdasan spiritual yang berkembang dengan baik akan ditandai dengan kemampuan seseorang untuk bersikap fleksibel dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan, memiliki tingkat kesadaran yang tinggi, mampu menghadapi penderitaan dan rasa sakit, mampu mengambil pelajaran yang berharga dari suatu kegagalan, mampu mewujudkan hidup sesuai dengan visi dan misi, mampu melihat keterkaitan antara berbagai hal, mandiri, serta pada akhirnya membuat seseorang mengerti akan makna hidupnya.

Tentunya akan sangat bermanfaat sekali jika seorang anak di bekali dan diasah kecerdasan spiritualnya. Tentunya anak akan berkembang menjadi anak yang cerdas dan kreatif mengenal dan mencintai ciptaan Tuhan. Lebih dari itu sebenarnya kecerdasan spiritual juga mencerminkan kesalehan dan integritas personal yang kuat. Disinilah perlu dilakukan kiat-kiat tertentu agar anak-anak tumbuh sesuai harapan memiliki kecerdasan tersebut. Kemampuan ini dapat dirangsang melalui penanaman nilai-nilai moral dan agama.

Pekerjaan kita sekarang adalah bagaimana menerapkan ketiga konsep kecerdasan tersebut sehingga kecerdasan emosional, spiritual, dan intelektual dapat dilejitkan pada anak. Bagaimanapun untuk melejitkan ketiga kecerdasan itu haruslah dimulai sejak anak masih berada dalam kandungan dan dioptimalkan ketika usia anak masih potensial yaitu pada usia dini dimana pada usia tersebut adalah masa golden age.

PERAN PENDIDIK (GURU DAN ORANG TUA) DALAM MENCERDASKAN ANAK

Paradigma pendidikan saat ini sudah mulai mengalami perubahan kearah yang lebih baik, dahulu pendidikan baru dilakukan saat anak memasuki usia sekolah dasar atau pada usia 4-6 tahun saat masa Taman Kanak-kanak. Dalam “Panduan Lengkap PAUD Melejitkan Potensi Kecerdasan Anak Usia Dini” sebuah penelitian dibidang neurologi yang dilakukan Dr. Benyamin S. Bloom, seorang akademisi pendidikan dari Universitas Chicago, Amerika Serikat, menemukan bahwa pertumbuhan sel jaringan otak pada usia 0-4 tahun mencapai 50%. Artinya bila pada usia tersebut otak anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal, maka otak anak tidak akan berkembang secara optimal.

Pada dasarnya konsep Pendidikan Anak Usia Dini harus dimulai dari perhatian yang serius baik dari aspek gizi, kesehatan, dan tentu saja pendidikan. Kita mungkin dapat mencontoh proses yang dilakukan oleh negara-negara maju, seperti Amerika. Di Asia sendiri, seperti Korea misalnya, hampir seluruh anak usia dini telah terlayani dengan PAUD, bahkan di negara tetangga kita, Malaysia, pelayanan PAUD sudah mencapai angka 70% anak.

Dalam cakupan yang lebih luas, pentingnya pendidikan anak usia dini pada anak-anak telah menjadi perhatian internasional, hal ini terlihat ketika adanya Forum Pendidikan Dunia tahun 2000 di Dakkar Senegal. Dalam pertemuan tersebut menghasilkan enam kesepakatan sebagai kerangka aksi pendidikan untuk semua (The Dakkar Frame work for Action Education for All) yang salah satu butirnya menyatakan: “Memperluas dan memperbaiki keseluruhan perawatan dan pendidikan anak usia dini (PAUD), terutama bagi anak-anak yang sangat rawan dan kurang beruntung.”.

Konsep pendidikan anak usia dini lebih pada bagaimana kita memberikan bimbingan yang lebih intensif untuk merangsang anak dalam berbagai hal, terutama tentang perkembangan dan pertumbuhan otak anak. Dan hal ini tentu saja dilakukan semenjak usia prasekolah bahkan lebih awal dari itu. Upaya meningkatkan intelektual anak di sekolah tidak mungkin dilakukan secara instan. Hal itu harus dilakukan secara stimultan sejak dini, sejak usia prasekolah, dengan menyediakan atau menciptakan lingkungan yang memberi stimulasi intelektual. Sebab, inteligensia anak tidak akan berkembang hanya dengan memperhatikan sudut gizi tanpa memperhatikan sudut lingkungan.

Dalam mengembangkan IQ dapat ditingkatkan dengan stimulasi yang dibutuhkan anak. Sebagi pendidik, tentu kemampuan akademis yang baik diperlukan dalam mengajar. Namun hal ini belum tentu dapat meningkatkan IQ anak, sehingga selain dengan menyadarkan pentingnya asupan gizi yang cukup dan seimbang pada anak, dapat juga mengupayakan dengan: (1) mengenalkan anak pada buku-buku cerita bergambar; (2) membacakan dongeng dan menyuruh anak mengulangi dongeng tersebut; (3) meminta anak untuk menceritakan pengalamannya di sekolah atau tempat bermainnya; (4) mengenalkan bentuk angka, penjumlahan dan pengurangan ringan dalam bentuk bermain, dan lain sebagainya.

Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan pendidik untuk membina keterampilan-keterampilan kecerdasan emosi anak adalah sebagai berikut: (1) mengajak anak menengok keluarga yang terkena musibah; (2) mengajarkan anak untuk berbagi dengan saudara ataupun teman, misalnya berbagi makanan dan mainan; (3) membangun kepercayaan diri anak misalnya dengan mengikutkan anak dalam berbagai lomba atau tampil di depan umum saat ulang tahun temannya; (4) membiasakan anak untuk menyapa atau memberi salam pada orang lain terlebih dahulu; (5) sesering mungkin menanyakan pada anak tentang perasaannya jika ekspresi wajahnya terlihat berubah; (6) memberikan pekerjaan yang bisa dikerjakan sendiri oleh anak, misalnya mewarnai gambar atau merapikan piring-piring plastik; (7) membimbing anak agar mengenali dirinya sendiri, seperti menggambar wajah tentang kondisi perasaannya (wajah sedih, gembira, marah).

Sehubungan dengan pembentukan kecerdasan SQ ini perlu diupayakan beberapa hal, yaitu: (1) mengajak anak untuk belajar kitab suci agama yang dianutnya; (2) mengajari anak untuk berdoa setiap saat; (3) membiasakan anak untuk beribadah; (4) menanamkan pada anak perilaku yang baik dan bahwa Tuhan melihat segala tingkah lakunya, mencatat amal perbuatannya; (5)  membangun mental yang berkaitan dengan kesadaran diri, yang dibangun dari alam pikiran dan emosi secara sistematis berdasarkan rukun iman (prinsip: bintang atau ilahi, malaikat, kepemimpinan, pembelajaran, masa depan, keteraturan). Sehingga dalam mengembangkan kecerdasan spiritual adalah dengan menanamkan nilai-nilai kehidupan sejak dini yaitu kesadaran tinggi akan makna dan nilai. Makna dan nilai adalah dua hal yang berkaitan. Membantu anak dalam menyeleksi, menyarikan, dan mengintegrasikan pengalaman-pengalaman yang akan membentuk pribadi yang cerdas secara spiritual.

Hal-hal tersebut di atas  dapat dilakukan bila terjadi kedekatan yang baik antara anak dan pendidik (orang tua dan guru), untuk itu kerjasama yang baik mutlak diperlukan. Yang paling perlu diingat dalam rangka stimulasi kecerdasan, emosi, dan spiritual adalah peran orang tua dan guru sama-sama penting. Fungsi sekolah dan lingkungan keluarga, dan tempat bermain sama vitalnya. Semua harus saling mendukung, tidak boleh ada satu aspek pun yang lemah. Sehingga perlu sekali merangsang inteligensi anak sedini mungkin, sejak usia pembentukan, saat masih mudah merangsang perkembangan kecerdasan, emosi, dan fisik. Kualitas perkembangan yang diperoleh pada masa balita itulah yang nanti menjadi dasar pola perkembangan inteligensi selanjutnya.

PENUTUP

Pada kenyataannya anak-anak banyak belajar dari apa yang disaksikannya, terutama apa yang mereka dapati pada orang tua dan guru di sekolah. Sebaliknya sebuah nasehat baik yang diberikan orang tua atau guru tapi tidak didukung oleh perilakunya sehari-hari, mungkin tidak akan didengar atau ditaati. Itulah maka sangat dianjurkan bagi orang tua yang menghendaki anak-anaknya menjadi orang yang cerdas, haruslah senantiasa bisa menjadi teladan hidup yang baik bagi anak-anaknya. Keteladanan ini sekaligus menumbuhkan suatu lingkungan keluarga yang harmonis, karena tercerminnya dimensi spiritual, intelektual dan moral dalam kehidupan keluarga. Itulah yang juga menjadi alasan bahwa orang tua adalah pendidik yang harus menanamkan dan mengembangkan kecerdasan IQ, EQ, dan SQ dengan baik. Karena pada dasarnya aspek-aspek kecerdasan yang tercermin dalam IQ, EQ, dan SQ, adalah suatu kesatuan. SQ adalah dasar sementara IQ dan EQ adalah implementasi dari kecerdasan SQ.

Upaya-upaya pencerdasan itu sesungguhnya akan menjadi efektif apabila orang tua dan guru di sekolah bisa menjadi teladan yang sesungguhnya. Keteladanan orang tua dan guru, yang mencerminkan atau paling tidak dipersepsikan anak-anak sebagai seseorang yang cerdas, harus terimplementasi dalam kegiatan hidup sehari-hari. Artinya, meskipun secara akademis tingkat pendidikan orang tua tidak memadai, tetapi jika sehari-hari tak melewatkan waktu untuk membaca, menulis, taat melakukan ibadah, kata-katanya bijak dan akhlaknya baik, maka kehidupan yang demikian itu akan membawa hikmah dan memacu kecerdasan anak.

DAFTAR PUSTAKA

Rachman, Arief. 2002. Melejitkan IQ, IE, dan IS. Jakarta: Inisiasi Press.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2002. Jakarta: Balai Pustaka

Wikipedia. Kecerdasan Emosional. (Online). (www.id.wikipedia.com/kecerdasanemosi), diakses 14 Desember 2013 pukul 19.49

Yazid, M. Busthomi. 2012. Panduan Lengkap PAUD Melejitkan Potensi dan Kecerdasan Anak Usia Dini. Jakarta: Citra Publishing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s