Pendidikan dan Budaya Anti Korupsi

jangan rusak masa depan(artikel ini ditulis oleh Farah Adiba NM dan Dessy Norma pada lomba essay ASCEC Madiun “Kartini Muda Melawan Korupsi” yang berhasil menjadi juara 3)

Kata “korupsi” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaaan, dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Perbuatan korupsi selalu mengandung unsur “penyelewengan” dan ketidakjujuran. Rakyat kecil yang tidak memiliki keberanian guna melakukan koreksi dan memberikan sanksi pada umumnya bersikap acuh tak acuh. Namun yang paling menyedihkan adalah sikap rakyat menjadi apatis dengan semakin meluasnya praktik-praktik korupsi oleh beberapa oknum pejabat lokal, maupun nasional.

Bentuk kejahatan seperti ini sering dilakukan oleh banyak orang. Tak terkecuali oleh para pejabat negeri ini. Kurangnya perhatian pemerintah dan kekuatan hukum yang lemah, membuat masalah ini semakin mencuat. Dalam hal ini, perlu adanya peran generasi muda dalam pemberantasan korupsi. Para generasi muda diharapkan mampu memberikan kontribusi positif dalam penyelesaian masalah korupsi. Meskipun perannya belum maksimal, tapi sedikit demi sedikit hal itu dapat teratasi.

Korupsi menjadi kasus yang hangat diperbincangkan di media cetak maupun elektronik. Kondisi Indonesia sungguh sangat menyedihkan, dimana kasus korupsi sudah mendarah daging bahkan sudah menjadi budaya. Kasus korupsi bisa dibilang menyengsarakan hampir semua lapisan masyarakat. Sungguh ironi jika perempuan Indonesia yang umumnya mengemban amanah perjuangan Kartini justru seakan memudar peranannya.

Kartini yang pernah memproklamirkan emansipasi wanita seharusnya menjadi motivasi dan inspirasi bagi kaum hawa dalam pemberantasan korupsi. Kartini muda bisa menjadi tonggak emas bagi pemberantasan korupsi di Indonesia. Salah satu caranya adalah melawan korupsi yang menyebabkan negara kehilangan cara untuk menghapus kemiskinan yang melanda.Yakni kartini muda bisa merefleksikan perjuangan emansipasi Kartini di bidang pendidikan dalam pemberantasan korupsi.

Dalam salah satu suratnya Kartini pernah mengatakan, “Tangan ibulah yang dapat meletakkan dalam hati sanubari manusia, unsur pertama kebaikan kejahatan, yang nantinya akan sangat berarti pada kehidupan selanjutnya. Tidak tanpa alasan orang mengatakan, bahwa kebaikan atau kejahatan itu diminum bersama air susu ibu. Dan bagaimana ibu-ibu Jawa dapat mendidik anak, kalau ia sendiri tidak berpendidikan.”

Pendidikan sangat diperlukan sebagai media penghambat dan pengarahan tentang masalah korupsi. Guru dan siswa dituntut aktif untuk berinteraksi dalam memberikan  pengarahan terhadap bahaya korupsi bagi kelangsungan hidup bangsa dan negara. Biasanya, para kartini muda lebih aktif dan peduli tentang masalah yang ada di sekitarnya. Walaupun terkadang kaum kartini dipandang rendah, namun perananannya sangat penting bagi masa depan bangsa.

Dilihat dari sudut pandang pendidikan, kartini muda mampu melawan korupsi dengan cara penerapan pendidikan anti korupsi yang nantinya akan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan anti korupsi bisa dibilang salah satu cara paling ampuh dalam pemberantasan korupsi. Karena dengan pendidikan dalam keluarga dan sekolah, para kartini muda diajarkan nilai-nilai moral dan kejujuran. Di usia SMA pula lah, adalah saat yang tepat untuk membentuk karakter dan kepribadian seorang manusia. Melalui peran guru, penanaman nilai-nilai moral seharusnya mampu membentuk pribadi siswa antikorupsi dalam pendidikan yang berkarakter. Hal tersebut memang tak bisa dirasakan manfaatnya seketika itu, namun itu bisa saja menjadi modal menanamkan budaya antikorupsi dalam lingkungan pendidikan.

Cara yang kedua adalah melalui media massa di sekolah (Majalah, Blog, dsb). Media massa sekolah memberikan wadah yang cukup luas dan efektif untuk menyalurkan aspirasi. Yaitu dengan memuat artikel-artikel yang berhubungan dengan tindakan anti korupsi. Tindakan inilah yang sering dilakukan oleh para kartini muda di lingkungan pendidikan. Cara seperti ini menuntut kita (khususnya para siswa) untuk lebih berpikir kritis, logis, berdasarkan historis, dan dengan pendekatan sosiologis. Artinya, selain siswa mengetahui masalah korupsi yang sedang hangat diperbincangkan melalui media massa sekolah, siswa juga diajak untuk berpikir kritis dan logis terhadap masalah yang ada. Media massa sekolah elektronik ataupun cetak kiranya mampu dijadikan salah satu ‘alat’ untuk menanamkan budaya anti korupsi. Cara preventif seperti ini mungkin sudah sering dilakukan, namun  kita harus optimis bahwa tindakan seperti ini sedikit demi sedikit akan mampu mengubah paradigma antikorupsi sebagai budaya positif.

Menurut Bapak Sunarko, S.Pd., salah satu guru PPKn di SMAN 3 Kediri, beliau mengatakan bahwa para kartini muda harus memperkuat iman dan taqwa dalam kehidupan sehari-hari agar tidak terbawa dan terjerumus pada kasus korupsi. Biasanya kaum kartini rela mengorbankan dirinya untuk melindungi orang lain. Hal ini tidak akan terjadi jika kaum kartini bersikap tegas dan menolak segala apapun yang bersifat negatif. Cara efektif yang biasa dilakukan kaum kartini adalah menyalurkan aspirasinya melalui media massa sekolah. Dan para kartini muda juga bisa menjadi motivator  bagi sesama maupun keluarga agar tidak tergiur melakukan korupsi.

Menanamkan budaya anti korupsi memang tak sekadar memberi pembelajaran hidup secara sederhana, namun juga merupakan media pendidikan yang dilandasi oleh rasa tulus, ikhlas, dan mempunyai ikatan emosional. Hal itulah yang membuat para kartini muda mendapatkan posisi yang strategis sebagai pembentuk karakter. Melalui gagasan-gagasannya tentang budaya anti korupsi, kartini muda mampu menjadi motivator dan inspirasi bagi lingkungan sekolah maupun masyarakat umum. Perannya tak hanya menanamkan nilai-nilai antikorupsi pada sebayanya namun juga dengan menunjukkan empati dan kasih sayang. Jika kebutuhan psikis terpenuhi, maka kita akan selalu berpikir positif untuk menciptakan peluang baru tanpa korupsi. Dengan demikian, pengaplikasian budaya antikorupsi pun berjalan dengan baik.

Kita sebagai generasi muda penerus bangsa harus bisa menyelamatkan bangsa dari kasus korupsi. Penulis yakin jika ketiga peran yang dilakukan oleh para kartini muda masa kini dilaksanakan dan mendapat dukungan penuh dari semua kalangan, perlahan-lahan akan menghapus korupsi dari negeri ini. Perjuangan anti korupsi dari kaum kartini sangat perlu diaplikasikan dan didukung karena dengan itu bisa jadi bangsa ini akan menjadi bangsa yang bebas dari korupsi. “Bila suatu pendidikan sangat baik, maka penerus bangsa akan mampu mengendalikan, bahkan menghentikan korupsi.” ungkap Agung Yusuf Permadi, salah satu siswa SMAN 3 Kediri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s