Kataku Suatu Ketika

aku yang hidup lalu mati
aku yang bisu, tuli, dan buta
aku yang membungkam dalam sepi
aku yang menari bersama hujan
bersimpuh dalam peluh
aku yang ingkar dan patuh
dalam tanya
tanpa jawaban untuk hati
ketika aku mulai ragu
menenteng topeng senyum
tentang apa yang aku tentang
dalam nurani yang mulai berontak
pertentangan dua sisi hati
yang tak henti mengaduh dan mengadu
tapi
meredamnya dengan senyum teduh
menampik ragu yang menjalar
tapi
jangan lagi larang aku melarungkan benci itu
dalam teriak yang mulai serak
meski susah payah membungkam
di air mata yang tercecer
aku buta, bisu, tuli
demi
realisasi antara idealisme
yang tidak realistis
dengan realisme
yang terlalu pragmatik
adalah optimis
keyakinan dan kekuatan yang menggema
“Nak, segala apa yang menimpamu, menempamu” kata Ibu
ini punggungku, panggung kehidupanku
kataku suatu |KETIKA| bergurau pada senja
 
ps: ditulis pada suatu malam. ketika kopi mulai pahit. dalam harapan yang tertumpuk sesak dipenuhi ragu. di mana ragu dan tanya mengahanyutkan kata-kata si penulis. pada siapa lagi bertanya? tanya pada rumput yang bergoyang. 🙂
 
by: farah adiba nailul muna
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s