MIMPI TERPENJARA (3)

“di ruangan kecil ini ia membangun impian itu. Mencoba bangkit dan bangun melihat keadaan sekitar. Terjajar rapi lukisan-lukisan itu. Foto-foto yang tertempel sejajar dengan ruangan. Coretan kertas dan buku-buku bertumpuk di sudut ruangan. Hanya merah, biru, dan hijau yang menyinari setiap mimpinya di ruangan mungil itu. Kerapkali ia menggantungkan secuil kertas di pohon cokelat yang terlukis di sudut ruangan. Meniup debu dari buku di sudut ruangan yang sudah lama tak terpakai menjadi hal unik baginya. Rasanya ada sepotong fragmen yang tak boleh dilewatkan. Seperti ada nuansa masa lalu yang memberontak ingin dikenang hingga kini. Mari kembali beralih pada setiap bagian di buku ini dengan tulisan yang acak-acakan. Lembar demi lembar, setiap foto yang tertempel, coretan demi coretan dari tinta warna yang mulai luntur menghiasi setiap lembar dalam buku itu. Jelas sekali bahwa ia ingin mengenang semua imajinya.”
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s