Cinta dalam Karya

Suatu sore sepulang sekolah saya masih menyempatkan diri bercengkrama dengan teman-teman di depan kelas. Obrolan ringan dan tawa kecil sedikit merefresh otak setelah sejak tadi pagi terkuras memikirkan satu per satu materi pelajaran di sekolah. Suasana sekolah yang mulai sepi dan udara yang sejuk membawa kami terlena dalam obrolan itu. Sesaat saya terpaku oleh sekelompok anak di depan ruang perpustakaan. Terlihat mereka dengan asyiknya mendesain sebuah mading. Padahal waktu itu sudah jam pulang sekolah. Waktu yang sebetulnya mereka bisa menikmati kebebasan bermain dengan teman sebayanya, atau menikmati waktu sore untuk duduk bercengkrama dengan keluarga. Tetapi barangkali karena tugas, mereka lebih memanfaatkan waktu itu untuk mengerjakan tanggung jawab mereka. Sementara anak-anak lain sebayanya asyik menikmati kebebasan bermain di luar sana, sekelompok anak ini dengan semangat mewujudkan sebuah impian, yaitu memajang mading untuk pembaca.

Saya masih menjumpai ketekunan yang terpancar dari wajah sekelompok anak itu untuk menciptakan sebuah produk seni. Waktu itu saya beruntung, akhirnya saya melihat langsung sekelompok anak yang mengorbankan waktunya demi sebuah kegiatan positif bagi lingkungan sekitarnya. Sekejap ide-ide kreatif di benak saya muncul ketika melihat mereka beraktifitas. Serupa oase yang muncul di padang pasir, menyejukkan. Mengapa? Sebentar saja mengamati mereka, saya menemukan banyak hal positif. Mulai dari ketekunan, kerjasama, kreativitas, dan kesederhanaan terpancar dari setiap detil mading yang mereka buat. Sampai-sampai saya tak menjumpai rasa lelah dalam raut wajah mereka.

Diselingi canda dan keusilan khas remaja membuat saya tersadar bahwa sekalipun mereka berasal dari kelas dan tingkatan yang berbeda, tak nampak adanya pembeda di antara mereka. Karena mereka lebur menjadi satu demi sebuah kepentingan. Bahkan saya bisa menyimpulkan bahwa dibalik kebersamaan mereka, muncul puluhan bahkan ribuan energi kreatif yang unik dan menarik. Misalnya, untuk mempercantik sebuah mading mereka menggunakan beberapa bahan daur ulang yang jarang terpikirkan oleh kita. Perdebatan seringkali muncul disela kegiatan membuat mading, itulah menariknya sebuah karya seni. Banyak argumen dan ide menarik muncul. Bukankah itu membutuhkan tingkat kecerdasan yang tinggi untuk menghasilkan produk seni yang orisinil?

Mungkin sesuap roti pun tak akan cukup mengalihkan perhatian mereka dari mempercantik produk seni itu. Kalau sudah merasa dapat menikmati suatu aktifitas biasanya kita sering melupakan makan. Yang menjadi orientasi dan prioritas saat itu hanyalah pekerjaan segera tuntas dengan hasil yang memuaskan. Sayangnya, dalam hal ini tak hanya bakat yang dibutuhkan. Namun juga pengorbanan dan tanggung jawab yang tinggi untuk menghasilkan sebuah produk seni. Yah, itu yang disebut profesionalisme kerja.

Tak lelah saya memperhatikan setiap gerak sekelompok anak itu. Mengerjakannya dengan profesional diimbangi dengan passion yang mereka miliki, saya yakin akan mempercantik mading itu. Kerjasama, kekompakan, kesederhanaan, kreatifitas, dan semangat dalam melakukan suatu pekerjaan mungkin sudah jarang kita temui di negeri ini. Bahkan sekarang ini lebih sering kita jumpai beberapa persoalan dan pekerjaan yang tak tuntas karena kepentingan-kepentingan pribadi. Alangkah baiknya jika kita mengaca pada sekelompok anak itu bahwa kerjasama, kekompakan, kesederhanaan, kreatifitas, dan semangat akan memberikan sebuah hasil yang maksimal bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar. Serupa oase di sebuah padang pasir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s