Yang Menjadi Segalanya

Bertahun-tahun sudah menikmati setiap waktu yang ada, entah untuk apapun itu. Pernah gak sih kita bertanya pada diri sendiri “Apa sih yang udah aku lakuin selama ini? Apa sih yang paling berarti selama ini?”. Well, lagi-lagi muncul pertanyaan klasik yang terdramatisasi ketika mengucapkannya. haha. Seringkali aku menghabiskan waktu senja untuk duduk bersantai di salah satu monumen di kotaku. Uniknya monumen ini di desain mirip banget sama monumen Arc de Triomphe dari Paris. Bedanya monumen Simpang Lima Gumul(SLG) berada di tengah-tengah persimpangan Lima di Gumul, Kediri. Walaupun desain dan arsitekturnya mirip dengan Arc de Triomphe, tapi ternyata ornamennya menonjolkan seni budaya asli Kediri. Di sekeliling monumen banyak banget ditumbuhi rumput yang biasa untuk santai dan ngumpul bareng temen. Klasik ya menikmati suasana senja di Arc de Triomphe ala Kediri.

Aku tak sendiri menikmati senja di monumen ini, biasanya sebotol minuman kaleng, beberapa bungkus snack, notes, kamera, dan salah seorang sahabat menjadi pelengkap rutinitas senjaku. Waktu itu di suatu senja kami duduk berdua di bawah langit yang teduh, udara yang sejuk, dan hamparan rumput yang bergoyang tertiup angin. Ketika itu mata kami tertuju pada gadis kecil yang berlari sambil tersenyum menghampiri kami.

“Halo adek manis… namanya siapa?” sapa sahabat saya

Gadis itu hanya tersenyum dan duduk di depan kami dengan manisnya. Memainkan rumput dengan jari jemarinya yang mungil sambil sesekali melirik ke arah kami. Tak lama, ibunya memanggil dengan suara yang cukup keras karena gadis itu berlarian cukup jauh dari orang tuanya.

“Adek sini, jangan ganggu kakaknya lagi ngobrol…”. Tampaknya ia kaget dengan teriakan ibunya, gadis itu berlari ke arah ibunya dan bermain disana.

“Prim, sadar gak sih anak kecil tadi habis ngapain? aneh banget!” ucapku datar
“Ya biasa, namanya juga anak kecil pasti ya kayak gitu deh tingkahnya. Lucu kan?”
“Iya sih, tapi aneh. Perhatiin deh, daritadi maen dan lari-lari terus gak ada capeknya apa. Gak bisa diem banget kan?”
“Dia kan masih kecil, masih polos. Jarang-jarang kan di genit in sama anak kecil kayak gitu.” Kata Prima sambil tertawa kecil
“Whatever lah”
“Biarin aja lah, biar dia menikmati masa kecilnya yang indah. Biasanya kita juga kangen masa kecil kita kan?”

Aku diam, kami berdua sama-sama diam. Orang-orang bercengkrama di sekeliling monumen, ada yang dengan keluarga, sahabat, pacar, dan banyak yang lainnya. Deru suara motor di jalanan menjadi tontonan yang biasa karena posisi monumen ini tepat di tengah jalan persimpangan lima. Hanya diam dan sesekali menghembuskan nafas panjang seolah menenangkan diri.

“Apa sih yang kita cari disini?” Kataku mengagetkan Prima
“Pengen santai. Bosen kan tiap hari dengan rutinitas yang itu-itu aja.”
“Kapan ya bisa kayak anak kecil tadi. Lari-lari, tanpa beban, bebas nglakuin apa aja yang dia suka. Yang ada dipikirannya cuma maen dan maen. gak ada yang lain!”
“Kan selama ini kita udah melewati semua itu. Gak mungkin kan kita kembali ke masa lalu.”
“Ya enggak sih, rasanya sekarang gak bisa enjoy aja. Yang salah siapa donk kalau gitu? Kita? atau keadaan?”
“Gak ada yang salah sih.  Mungkin kita sering lupa sama Tuhan, membiarkan diri kita terlena dengan apa yang namanya tanggung jawab. Sekarang kita udah jadi diri kita sendiri. Bedanya sama anak kecil tadi, dia masih mencari siapa dirinya.”
“Iya ya, sudah saatnya kita mendewasa tanpa mengeluhkan apa yang terjadi. Mungkin keluhan-keluhan yang menumpuk itu membuat aku lupa siapa di balik semua ini. Tuhan.”
“Life must go on kan?”
“Yah, Tuhan yang membuat kita kuat.”

Dia hanya membalasnya dengan senyuman.

Ada satu hal yang perlu aku sadari dalam hidup ini. Yang mungkin selama ini hilang entah kemana. Yang jarang disadari oleh remaja seusiaku. Bahwa sebenarnya Allahlah segalanya. Yang memberi hidup dan kehidupan. Maha pembolak balik hati. Sang pemilik segalanya. Hanya Allahlah yang memiliki segalanya, penolongku, cahaya terang di saat nurani mulai goyah, petunjuk saat otak mulai kehilangan logika, Maha segalanya. Dialah tujuan dari segala tujuan. Allahlah yang berhak atas nafasku, atas jiwaku, atas ragaku, ilmuku, atas jalan hidupku. Jalan hidup yang aku pilih tanpa paksaan. Karena semua ini milikNya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s