Share yang Hilang

Seneng deh kalau lagi ngebayangin tentang masa kecil dulu. Sekedar mengingat-ingat dan membandingkan antara masa kecil dulu dan masa sekarang. Hmmh, oke coba lihat yah satu persatu yang mungkin hilang dari peradaban. Haha. Lebay banget. Kebersamaan, kesederhanaan, kejujuran, dan ketekunan. Dulu nih, waktu masih kecil biasanya asik banget kalau lagi maen bareng temen-temen. Walaupun masih suka berantem. Kadang kalau lagi kejar-kejaran rebutan mainan sama temen pas kecil dulu suka nangis kalau lagi jatuh, nah udah kayak gitu pasti terpancar wajah tegang para ibu yang sedang mengawasi kita sambil bilang, ‘Dek, hati-hati dong kalau maen. Jangan rebutan maenan gitu. Pinjem yang baik, maennya gantian!’. Haha. Terharu deh kalau inget kayak gitu, masih kental banget kan kebersamaannya. Waktu kecil dulu juga sering tuh duduk di teras rumah, mainan boneka, ngarang-ngarang cerita aneh dan gak jelas. Mulai boneka yang jadi penjual rujak sampai demam teletubbies yang seolah mewajibkan anak untuk menceritakan setiap episodenya pada ibu. Hanya tawa kecil dan menjadi pendengar yang baik ketika menceritakan sesuatu sudah cukup membuat aku bahagia. Waktu itu. Waktu berjalan cepat dan masa lalu telah terlewat. Tapi, hidup adalah pilihan. Apapun yang kita pilih di masa depan, dan mau kita kenang atau buang masa lalu. Itu pilihan.

Cerita ini aku tulis setelah pulang dari rumah salah seorang saudara dari Jogja. Aku biasa memanggilnya ‘bulek’, aku tak tahu artinya sih tapi ya setidaknya itu mewakili kedekatan kami. Aku sering menghabiskan waktu berjam-jam di kamar kostnya yang cukup luas itu hanya untuk share dan melepas penat. Biasanya sore setelah pulang sekolah hingga malam hari. Entah kenapa aku merasa nyaman disana, seperti ada atmosfer positif yang mendorongku untuk selalu melakukan apapun dengan maksimal. Sore itu, seperti biasanya aku menonton tv sambil mengerjakan tugas sekolah.

“Far, kok tumben belajar. Ha ha ha.” Kata bulek yang baru selesai mencuci piring.
“Wah ngledek nih! Ya biar pinter lah. Aku kan emang rajin dari dulu.”
“ha ha ha. Sok serius ah, belajar kok sambil sms an.”
“JANGAN GANGGU!” kataku dengan keras.
“ha ha ha”

Meski sesekali terpaku pada tayangan televisi, akhirnya tugas sekolah itu selesai juga. Ya, butuh waktu dua jam menyelesaikan 50 soal matematika dan sosiologi. Akupun membereskan buku-buku dan memasukkannya ke dalam tas. Kulihat jam dinding di atas tembok yang ternyata sudah menunjukkan pukul 16.30 dan aku bergegas mengambil air wudhu kemudian sholat. Hmh, tiba saatnya melepas lelah dengan berbaring di atas kasur dan menyalakan mp3 dari handphone.

“Ojo serius-serius to lak ngerjakne. Mumet ngko!” Kataku menjaili bulek yang sedang menginput data ke laptop.
“Halah, wes arepe rampung iki, Far.”
“Ah, sebentar lagi kuliah ya. Gak terasa udah 3 tahun di SMA.”
“Iya ya. Hmmh, jadi ambil jurusan apa? Dimana?”
“Mau ambil komunikasi di UB ” kataku dengan yakin
“Yakin? Ya bagus deh, sesuai dengan minat dan bakat kamu.”
“Kuliah itu gimana sih?” tanyaku penasaran
“Kalo gak kuliah di luar kota itu gak ngrasain yang namanya perjuangan. Gak ada tantangannya.”
“hmmh. Ciyus? Miapa? hahaha” kataku meledek
“Kuliah itu gak kayak SMA loh. Harus mandiri, disiplin, dan tahu diri. Harus lebih rajin belajar dan baca. Ya pokoknya kalo ambil jurusan harus di sesuaikan dengan minat dan bakat. Jangan sampai salah jurusan.”
“Iya tau kok.”
“Udah deh, apapun itu jika kita lakukan dengan rasa senang dan ikhlas pasti enak ngejalaninnya. Yang penting sekarang berusaha biar bisa masuk fakultas yang kamu inginkan”.
“Ah pusing deh mikirin itu. Mumpung lagi buka laptop, lihat donk foto-foto pas jamannya kuliah.”

Aku tertawa geli ketika melihat foto-foto bulek di laptop itu. Rasanya ada perubahan sangat banyak dialami bulek. Seperti ada aura positif dan semangat pada dirinya sekarang. Berbanding terbalik dengan foto itu.

“Dulu ya Far, waktu lulus SMA. Aku tuh gak ada niat buat kuliah, ya soalnya gak ada biaya. Kan adek aku juga banyak, masih sekolah juga. Tapi gak tau kenapa akhirnya kuliah.”
“Emang kuliah dimana? Kok bisa?”
“di Jogja. Ya karena gak di awali dengan niat yang sungguh-sungguh, akhirnya menderita karena salah pilih jurusan. Tapi, prinsipku apapun yang aku jalani harus aku lakukan dengan maksimal.”
“Lah, bisa gak ngikuti pelajarannya?”
“Pas kuliah dulu aku merasa seperti orang yang paling bodoh. Padahal juga belajar lho, makanya kamu belajar yang serius. Jangan sampai merasakan apa yang aku rasakan dulu.” Katanya menasihatiku.

Sepertinya benar apa yang dikatakan bulek. Contohnya saja di sekolah, ketika aku tidak belajar atau mempersiapkan materi untuk besok, ada rasa percaya diri yang hilang. Meskipun sebenarnya apa yang guru sampaikan di kelas juga bisa kita dengar, tapi terasa aneh ketika mendapat ilmu baru tapi sebelumnya tidak membaca dasarnya. Terkadang dalam pendidikan, kita lebih sering mengejar nilai dan menghalalkan segala cara hingga melupakan akhlak yang baik. Padahal dulu waktu kecil, kita sering dan berulang kali di nasehati untuk selalu mengedepankan kejujuran.

“Kamu harus percaya bahwa ketika kita terbiasa untuk hidup jujur dan mandiri, tetap yang akan memetik keuntungan itu kita sendiri. Kalo udah bisa mandiri, kita akan terbiasa dengan kehidupan itu. Jadi gak akan terbebani.”
“Ya sebenarnya aku itu ya bisa mandiri loh. Tapi tertabrak alasan-alasan klasik akhirnya ya manja. Hahaha.”
“Lha iya, masa udah 17 tahun gak bosen kalau manja. Mulai sekarang belajar mandiri, biar kita terbiasa bersahabat dengan namanya kesulitan hidup.”
“Harus ya?”
“Iya lah. Harus, apalagi bentar lagi kuliah di luar kota. Siapa coba yang bisa nolongin kalo gak dirimu sendiri?”
“Iya ya. We can survive. Fighting. hahaha”
“Sebenarnya ya cita-citaku dosen, Far. Aku berdoa terus biar bisa kuliah S2, daftar dosen trus kuliah psikologi.”
“Oke sip tak doakan. Cita-citaku cuma pengen cerita. Jadi penulis maksudnya.”
“Oke sip, yang penting harus kuliah sesuai bakat dan minat. Pasti bisa. Soalnya gak akan terpaksa kalo menjalani. Tapi harus ada niat belajar biar bisa. Sekarang nikmati dulu masa SMA-mu. Masa paling indah itu.”
“ha ha ha…”
“Tapi gak punya pacar waktu SMA rugi lho, Far. Ha ha ha”
“hmmmh.”

Mendiskusikan sesuatu sederhana tentang sebuah langkah dan pilihan masa depan, menghabiskan waktu berjam-jam share tentang hal itu, memberi sebuah suntikan semangat dan atmosfer positif pada diriku. Meskipun aku tak selalu berada di ruangan ini, aku berharap akan selalu memberikan atmosfer positif bagi semua orang. Obrolan kami tadi seakan membuka mataku untuk bangun dan melihat keadaan sekitar, mengajarkan bahwa hidup bukan permainan. Sepertinya selama ini aku di butakan oleh keadaan. Rasanya aku kehilangan tawa lepas yang keluar dari hati, mungkin aku kehilangan saat-saat menghabiskan waktu dengan obrolan ringan bersama keluarga, sahabat, atau siapapun itu. Aku butuh masa lalu, aku ingin belajar dari masa lalu. Share tak akan pernah hilang dari dunia kita. Walau hanya menjadi seorang pendengar yang baik. Itu pilihan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s